Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Malaysia akan Kurangi Pekerja Asing

Malaysia sedang berusaha untuk mengatasi ketergantungannya pada pekerja asing berketerampilan rendah di tengah upaya untuk meningkatkan taraf ekonomi. Namun langkah tersebut diprediksi akan merugikan beberapa industri utama di Negeri Jiran.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 Oktober 2019  |  13:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Malaysia sedang berusaha untuk mengatasi ketergantungannya pada pekerja asing berketerampilan rendah di tengah upaya untuk meningkatkan taraf ekonomi. Namun langkah tersebut diprediksi akan merugikan beberapa industri utama di Negeri Jiran.

Dilansir melalui Bloomberg, Malaysia bertujuan untuk mengurangi jumlah pekerja asing hingga lebih dari 130.000 dalam lima tahun ke depan. Pada saat yang sama, pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan untuk merekrut lebih banyak pekerja lokal yang berketerampilan tinggi dan beralih ke otomatisasi untuk menjadi ekonomi yang lebih maju.

Bisnis lokal mengatakan bersedia melakukan langkah tersebut, namun secara praktik mereka tetapi masih membutuhkan orang asing berketerampilan rendah untuk mengerjakan pekerjaan kasar seperti memanen buah sawit dan mencuci pakaian.

Perusahaan kecil dan menengah, yang berkontribusi terhadap 38% dari produk domestik bruto tahun lalu, bersama dengan produsen dan perkebunan mengatakan mereka menghadapi kekurangan tenaga kerja yang dapat mengancam pertumbuhan bisnis.

Menurut Federasi Manufaktur Malaysia, masalah terbesar bagi UKM adalah mempekerjakan cukup pekerja ntuk memenuhi pesanan penjualan langsung.

"Kekurangan tenaga kerja juga merupakan salah satu tantangan utama bagi industri perkebunan," kata IOI Corp. produsen minyak sawit asal Malaysia, dikutip melalui Bloomberg, Rabu (30/10).

Meskipun Perdana Menteri Mahathir Mohamad telah menyerah terhadap tujuannya untuk mengubah Malaysia menjadi negara berpenghasilan tinggi pada tahun depan, dia masih mendorong ekonomi untuk lebih mengandalkan industri teknologi tinggi dan lebih sedikit pada sumber daya.

Membatasi pekerja asing berketerampilan rendah, yang secara resmi adalah 15% dari total angkatan kerja, jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, adalah salah satu bagian dari langkah itu.

Malaysia tidak sendirian dalam perjuangannya untuk menavigasi kebijakan imigrasi untuk menguntungkan ekonomi.

Singapura juga telah membuka peluang bagi pekerja asing berketerampilan tinggi, terutama dalam pekerjaan teknologi keuangan yang bergengsi, sementara mengeluarkan lebih sedikit izin kerja untuk pekerja berketerampilan rendah seperti di ritel dan perhotelan.

Demikian pula dengan Thailand telah meluncurkan "Smart Visa" untuk menarik tenaga kerja asing yang sangat terampil di 10 industri utama.

“Tenaga kerja asing murah menghambat perusahaan untuk berinvestasi dalam modal dan teknologi yang lebih produktif,” kata Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng beberapa waktu lalu.

Pekerja lokal yang dipekerjakan untuk menggantikan pekerja asing akan mendapatkan insentif sebanyak 500 ringgit atau sekitar US$120 per bulan selama dua tahun, dan majikan mereka bisa mendapatkan sebanyak 250 ringgit.

Inisiatif ini akan menciptakan 350.000 lapangan kerja bagi warga Malaysia dalam lima tahun ke depan, kata Lim.

Pemerintah juga akan memberlakukan sistem retribusi yang lebih ketat untuk mengurangi pekerja asing dan memberantas perdagangan manusia dengan melakukan penyisiran dan mengharuskan perusahaan untuk melakukan audit yang lebih ketat.

Perusahaan lokal memuji langkah pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pekerja asing sebagai tujuan jangka panjang yang menjanjikan. Namun, dalam jangka pendek, penyesuaian itu tidak mudah.

“UKM terkendala dalam kemampuan mereka untuk tumbuh dengan waktu yang terbuang untuk mendapat persetujuan aplikasi pekerja asing," kata Federasi Produsen Malaysia.

Pekerja lokal tetap menjadi pilihan utama sebagai sumber pasokan tenaga kerja tetapi dalam banyak kasus, pilihan ini tidak selalu berhasil.

Data MIDF Research menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan yang diambil oleh pekerja asing dianggap kotor, berbahaya, dan sulit, sehingga dihindari oleh pekerja lokal. Pandangan tersebut diamini oleh IOI, yang mengatakan bahwa warga Malaysia lebih suka bekerja di industri jasa dan di perkotaan, bukan di kebun yang ada di pedesaan.

Produsen minyak sawit pada akhirnya beralih ke mesin untuk mengurangi ketergantungannya pada tenaga kerja asing dan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya. "Tapi itu tidak sepenuhnya menghilangkan kebutuhan kita akan pekerja asing," ungkap perusahaan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia pekerja asing
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top