Terkena Boikot, Penjualan Uniqlo di Korea Selatan Merosot 40 Persen

Menurut Reuters, penjualan produk Uniqlo di Korea Selatan yang menyumbang sekitar 8 persen dari penjualan di bisnis utama Uniqlo Fast Retailing, turun 40 persen year-on-year (yoy) pada Juli.
Geofanni Nerissa Arviana
Geofanni Nerissa Arviana - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  18:07 WIB
Terkena Boikot, Penjualan Uniqlo di Korea Selatan Merosot 40 Persen
Warga Korea Selatan mengadakan unjuk rasa anti-Jepang di dekat kedutaan besar Jepang di Seoul, Korea Selatan, 3 Agustus 2019. - Reuters/Kim Hong/Ji

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan produk pakaian asal Jepang, Uniqlo Fast Retailing Co, terseret turun akibat boikot barang-barang Jepang yang dilakukan warga Korea Selatan.

Menurut Reuters, penjualan produk Uniqlo di Korea Selatan yang menyumbang sekitar 8 persen dari penjualan di bisnis utama Uniqlo Fast Retailing, turun 40 persen year-on-year (yoy) pada Juli. Penjualan juga terus menurun pada Agustus, seperti dilaporkan indeks pasar saham Tokyo, Nikkei.

Analis J.P. Morgan, Dairo Murata, baru-baru ini juga menurunkan perkiraan pendapatan Fast Retailing untuk tahun berjalan sebesar 4,6 persen. Ia juga memangkas target harga saham menjadi 68.000 yen dari 70.000 yen.

“Kami memperkirakan penurunan dua digit dalam penjualan dan penurunan sekitar 40 persen dalam laba operasi untuk bisnis di Korea Selatan,” kata Murata dalam catatan klien.

Beberapa analis lainnya juga telah meramalkan perkiraan tersebut sejak Uniqlo dan beberapa bisnis Jepang lainnya menjadi sasaran boikot Korea Selatan. Hubungan kedua negara tersebut memanas sejak pemerintah Jepang dianggap memberatkan proses perizinan impor produk Korea Selatan.

Sementara itu, analis memperkirakan laba operasi 258,6 miliar yen (2,41 miliar dolar AS) untuk tahun yang berakhir Agustus, naik 9,5 persen dari tahun sebelumnya, menurut data Thomson Reuters.

Mereka melihat kenaikan 14 persen pada tahun berjalan yang ditopang oleh kekuatan di China dan pasar-pasar baru lainnya.

Pertumbuhan terbesar Fast Retailing dalam beberapa tahun terakhir terjadi di China, negara tempat Uniqlo membuka toko pertamanya pada 2002. Lebih dari 700 toko Uniqlo tersebar di China.

Uniqlo mengatakan, mereka mengharapkan pendapatan dari China tumbuh hingga 1 triliun yen pada tahun fiskal 2022.

Di negara asalnya, Uniqlo justru hanya menunjukkan sedikit pertumbuhan. Data penjualan toko yang sama pada September 2019 menunjukkan penurunan 4,2 persen dari tahun sebelumnya. Analis mengatakan, mereka mengharapkan penjualan yang lebih kuat menjelang kenaikan pajak konsumsi bulan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korea selatan, uniqlo

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top