Perlambatan Ekonomi China Terus Meluas

Ekonomi China masih berada pada jalur perlambatan akibat pelemahan sektor manufaktur, ritel, serta perang dagang yang terus menekan pertumbuhan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 September 2019  |  19:04 WIB
Perlambatan Ekonomi China Terus Meluas
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi China masih berada pada jalur perlambatan akibat pelemahan sektor manufaktur, ritel, serta perang dagang yang terus menekan pertumbuhan.

Indikator Bloomberg Economics menunjukkan pendinginan ekonomi untuk bulan kelima pada September, dengan indikator untuk perdagangan, harga pabrik, dan kepercayaan bisnis kecil semua memburuk. Naiknya harga saham dan besi mendorong sub-indeks tersebut.

Meskipun ketegangan perdagangan agak berkurang sejak bulan lalu, tidak terlihat adanya perbaikan permintaan global pada bulan September> Artinya penurunan bagi eksportir dan produsen terus berlanjut.

Pertumbuhan penjualan ritel dan investasi juga melambat, sehingga tidak ada pendorong dari dalam negeri yang mampu menopang pertumbuhan.

Data resmi untuk laporan September akan dirilis pada Senin (30/9), bersamaan dengan pengumuman data indeks manajer pembelian. Beberapa ekonom saat ini memperkirakan kinerja manufaktur akan tetap terkontraksi, meskipun dengan sedikit perbaikan.

Menurut catatan penelitian dari Bank of China Research Institute yang dirilis Rabu (25/9), perdagangan dan investasi global telah melemah pada kuartal ketiga, dan dengan kombinasi permintaan global yang melambat serta permintaan domestik yang lemah, tekanan ke bawah pada ekonomi China telah meningkat secara signifikan.

Laporan tersebut menyampaikan bahwa laju pertumbuhan kuartalan akan turun menjadi di bawah kisaran 6% meskipun ekonomi kemungkinan akan stabil di kuartal keempat sampai batas tertentu berkat stimulus dan perundingan dagang.

"Indikator awal menunjukkan lebih banyak tekanan ke bawah pada ekonomi China pada bulan September," menurut Qian Wan, ekonom Bloomberg Economics, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (26/9).

Pemimpin ekspor Asia, Korea Selatan, kini berada di zona merah.

Menurut Qian, survei bisnis menunjukkan pelemahan yang meluas bagi perusahaan, terutama perusahaan kecil, dan deflasi semakin dalam, yang selanjutnya akan menekankan keuntungan perusahaan industri.

Kepercayaan bisnis kecil menurun pada bulan September setelah stabil pada bulan lalu, menurut sebuah survei oleh Standard Chartered Bank, yang mengatakan sektor real-estate dan properti menyeret turun hasil keseluruhan.

World Economics Ltd. turut melaporkan bahwa manajer penjualan China di sektor manufaktur jelas khawatir tentang iklim bisnis saat ini dan tentang prospek masa depan.

"Perang perdagangan mungkin mulai menggigit keras bisnis China baik di dalam negeri maupun luar negeri," tulis laporan tersebut.

Meskipun perunding China dan AS akan kembali melanjutkan diskusi bulan depan yang diikuti dengan penundaan beberapaa tarif impor AS, ketegangan perdagangan masih terus membebani China dan negara-negara tetangga yang memasok barang ke pabrik-pabriknya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top