Perang, Korporasi, dan Ongkos Ekonomi

Dalam diplomasi saat krisis seperti saat ini di Timur Tengah, daya tekan terhadap pihak lawan dengan pengerahan armada tempur yang sepadan menjadi senjata diplomasi ampuh untuk menekuk lawan.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 24 September 2019  |  22:44 WIB
Perang, Korporasi, dan Ongkos Ekonomi
Asap terlihat di fasilitas pabrik minyak Aramco di kota timur Abqaiq, Arab Saudi, yang diserang pada 14 September 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Apakah dunia saat ini sudah diambang perang terbuka? Kawasan Timur Tengah memanas lagi. Bahkan serangan drone dari pihak luar sudah menghantam kilang minyak Saudi Aramco di basisnya sendiri (Arab Saudi).

Amerika Serikat dan Arab Saudi di satu pihak serta Iran gencar saling memprovokasi sebagai buntut serangan tersebut. Pengerahan kekuatan armada tempur menuju kawasan panas menjadi agenda selanjutnya dari masing-masing pihak yang berseteru.

Memang belum menjadi perang terbuka. Namun risiko konflik bersenjata tetap kencang. Daya tekan terhadap pihak lawan dengan pengerahan armada tempur yang sepadan menjadi senjata diplomasi ampuh untuk menekuk lawan.

Persoalannya, apakah Iran bisa dengan mudah digertak Washington dan Riyadh? Khusus mengenai hubungan antara AS dan Iran, konteksnya memang luas dan bisa dikatakan ikut memengaruhi konstelasi politik di kawasan tersebut.

Sebut saja mulai dari Perang Iran-Irak, jatuhnya Shah Iran, penyanderaan diplomat AS di Teheran hingga embargo ekonomi AS terhadap negeri para mullah tersebut. Sebuah perjalanan hubungan kedua negara yang bergerak dari satu titik ekstrim (era Shah Reza Pahlevi) ke titik ekstrim lainnya.

Berbeda dengan negara-negara lain yang juga dipandang oleh AS sebagai biang kerok terorisme dunia seperti Korea Utara dan Irak. Baghdad sudah 'diselesaikan menurut cara-cara demokrasi Amerika'. Pyongyang sudah bisa duduk bersama dengan Washington di meja-meja perundingan tingkat pimpinan negara. Bahkan Kuba pun sudah berdamai dengan AS.

Adapun Iran tetap melaju dengan perkasa sampai hari ini. Tudingan bahwa Teheran ada dibalik serangan ke kilang Saudi Aramco tidak membuatnya ciut berhadapan dengan Paman Sam. Akankah ini menjadi mandala baru yang bakal menjerumuskan ekonomi dunia ke jurang krisis?

Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001, dan Linda B. Jilmes sudah mengingatkan mitos bahwa perang adalah baik untuk perekonomian sama tak benar. Mitos itu harus dibuang jauh-jauh.

Dalam buku berjudul The Three Trillion Dollar War: The True Cost of the Iraq Conflict (2008), kedua ekonom tersebut menegaskan uang yang dibelanjakan untuk persenjataan di masa perang adalah uang yang dibuang ke got.

Seandainya uang itu dibelanjakan untuk investasi--entah berupa pabrik dan peralatan, infrastruktur, penelitian, kesehatan atau pendidikan--produktivitas perekonomian pasti sudah akan meningkat dengan produksi ke depan yang lebih besar.

Persoalannya, bukan apakah perekonomian telah diperlemah oleh perang atau tidak. Masalahnya adalah, seperti diulas Stiglitz dan Bilmes, sampai berapa jauh. Angka-angka ekonomi perang sungguh fantastis.

"Dalam skenario moderat realistik, total biaya-biaya itu [perang] lebih dari US$1 triliun," ujar keduanya.

Lebih gawat lagi, di setiap perang, ada minyak. Berkaitan dengan ketegangan di Timur Tengah saat ini, kita bisa belajar dari analisis kedua ekonom kondang tersebut, karena secara khusus membedah ongkos Perang Irak, yang diklaim Gedung Putih hanya berongkos US$500 miliar.

"Cukuplah dikatakan bahwa jika Amerika berperang dengan harapan mendapatkan minyak murah, kita telah sangat gagal. Sebaliknya kita telah berhasil membuat perusahaan-perusahaan minyak semakin kaya," kata Stiglitz.

Makin kaya karena ada korporasi minyak dunia yang benar-benar mendapat berkah dari perang. Harga sahamnya meroket dalam sekejap. Di sisi lain, perekonomian secara keseluruhan telah membayar harga mahal.

Untuk memperkirakan seberapa tinggi harga, Stiglitz dan Bilmes mengajukan tiga pertanyaan. Pertama, seberapa besar dari kenaikan harga minyak disebabkan perang? Kedua, apakah biaya langsung ditanggung oleh perekonomian AS dari kenaikan harga itu? Ketiga, bagaimana dampak sekundernya, yaitu terhadap ekonomi makro secara keseluruhan?

Untuk pertanyaan nomor satu, kesimpulannya adalah perang sebagai sumber pemicu.

Semangat haus perang demi keuntungan korporasi tertentu ini tak boleh dibiarkan. Mau disebut perang tanpa pasukan karena sudah menggunakan teknologi stone, perang terbatas atau perang sekali pukul pun maknanya tetap perang. Ada korban di sana. Jiwa, raga, harta.

Seperti dikatakan Gore Vidal, esais dan pengarang Amerika terkenal, dampak negatif pemerintahan Bush yang telah menciptakan mandala berdarah di Irak bisa berlangsung sangat lama, hingga satu abad mendatang.

Hillary Clinton, mantan kandidat presiden AS, juga membuat daftar panjang mengenai biaya Perang Irak, karena seharusnya bisa dialihkan untuk program vital, yaitu memberikan pelayanan kesehatan bagi 47 juta warga Amerika yang tak memiliki asuransi kesehatan, menyediakan pendidikan pra TK yang bermutu untuk semua anak, menuntaskan krisis perumahan, membuat biaya perguruan tinggi terjangkau oleh semua mahasiswa, dan menyediakan keringanan pajak bagi jutaan keluarga kelas menengah.

Sudah jelas, lebih dari sekadar kerugian ekonomi. Perang Irak, dan apapun alasan dibalik perang-perang berikutnya maupun perang yang mungkin saja sedang disiapkan, adalah tragedi besar dengan ongkos kemanusiaan yang tak terkira.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
timur tengah

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top