Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemimpin Eropa Desak Iran Setujui Perjanjian Baru soal Nuklir

Inggris, Jerman dan Prancis yang mendukung Amerika Serikat (AS) menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, mendesak Teheran untuk menyetujui pembicaraan baru mengenai program nuklir selain masalah keamanan regional.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 September 2019  |  07:31 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) dan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menghadiri pertemuan dengan pemimpin dan cendekiawan Muslim di Hyderabad, India, Kamis (15/2/2018). - Reuters/Danish Siddiqui
Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) dan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menghadiri pertemuan dengan pemimpin dan cendekiawan Muslim di Hyderabad, India, Kamis (15/2/2018). - Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA - Inggris, Jerman dan Prancis yang mendukung Amerika Serikat (AS) menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, mendesak Teheran untuk menyetujui pembicaraan baru mengenai program nuklir selain masalah keamanan regional.

Para pimpinan negara Eropa itu mengeluarkan pernyataan bersama setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu di pertemuan PBB di sela-sela pertemuan tahunan para pemimpin dunia.

Akan tetapi, Iran mengenyampingkan kemungkinan negosiasi kesepakatan baru dengan kelompok negara industri maju tersebut sebagaimana dikemukakan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

Menurutnya, mitra Eropa telah gagal memenuhi komitmen mereka berdasarkan pakta nuklir 2015.

Para pemimpin Eropa telah berjuang untuk meredakan konfrontasi antara Teheran dan Washington sejak Presiden Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir pada tahun lalu. Kesepakata itu akan menjamin akses Iran ke perdagangan dunia dengan imbalan pembatasan pada program nuklirnya.

AS menerapkan kembali sanksi terhadap Iran dan bahkan memperketatnya. Iran kemudian membalasnya dengan secara bertahap melanggar komitmen nuklir yang dibuat dalam perjanjian 2015.

Iran juga  menetapkan batas waktu bulan Oktober untuk mengurangi skala kewajiban nuklirnya, kecuali jika orang-orang Eropa menyelamatkan pakta tersebut dengan melindungi ekonomi Teheran dari hukuman AS.

"Sudah tiba saatnya bagi Iran untuk menerima negosiasi tentang kerangka kerja jangka panjang untuk program nuklirnya serta masalah-masalah yang berkaitan dengan keamanan regional, termasuk program rudalnya dan cara peluncurannya," menurut pernyataan ketiga pemimpin Eropa itu seperti dikutip Reuters, Selasa (24/9/2019). 

Ketegangan meningkat pada 14 September menyusul serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, yang dituding oleh Riyadh dan Washington dilakukan oleh  Iran. 

Akan tetapi,  Teheran menyangkal bertanggung jawab. Kelompok pemberontak Hutsi di Yaman yang berjuang melawan koalisi militer yang dipimpin Saudi mengklaim pihaknyalah yang melakukan serangan itu.

"Jelas bagi kami bahwa Iran bertanggung jawab atas serangan ini. Tidak ada penjelasan masuk akal lainnya. Kami mendukung penyelidikan yang sedang berlangsung untuk menetapkan rincian lebih lanjut,” menurut pernyataan mereka.

Ketika ditanya tentang upaya Macron untuk menengahi, Presiden Donald Trump mengatakan: "Kami tidak membutuhkan mediator. ... Mereka (Iran) tahu siapa yang harus dihubungi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran nuklir inggris
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top