Protes Kebijakan Dagang Trump, Konsumen China Tinggalkan Produk Apple

Apple merosot ke urutan ke-24 dalam laporan tahunan merek-merek top China, dari urutan ke-11 pada tahun lalu.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 20 September 2019  |  06:32 WIB
Protes Kebijakan Dagang Trump, Konsumen China Tinggalkan Produk Apple
iPhone XR - apple.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebuah survei yang dilakukan terhadap konsumen China menunjukkan bahwa dampak perang dagang telah mengorbankan penjualan Apple Inc. di negeri bambu.

Apple merosot ke urutan ke-24 dalam laporan tahunan merek-merek top China, dari urutan ke-11 pada tahun lalu.

Pada 2017, sebelum perang dagang dimulai, Apple menduduki peringkat kelima.

Sementara itu, pesaing terbesar Apple, Huawei Technologies Co., merangkak dua peringkat dan mengisi posisi kedua. Alipay, sistem pembayaran China berada di posisi paling atas.

Pertukaran posisi dalam peringkat ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi mereka Amerika Serikat tersebut terus meningkat pada tahun kedua perang tarif antara Presiden AS Donald Trump dan saingannya Presiden China Xi Jinping.

Temuan survei yang dipublikasi oleh Prophet, perusahaan konsultan yang berbasis di San Fransisco, secara umum menunjukkan konsumen China semakin tidak tertarik terhadap beberapa merek Amerika.

Terutama setelah CFO raksasa smartphone Huawei, Meng Wanzhou, ditangkap di Kanada tahun lalu atas perintah pemerintah AS.

"Kebijakan Trump atas larangan terhadap produk Huawei, memicu lonjakan dukungan untuk Huawei," menurut Jay Milliken, mitra senior Prophet di Hong Kong, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (19/9/2019).

Survei tahunan Prophet ini diikuti oleh 13.500 konsumer China di kota-kota besar dan membahas soal pandangan mereka terhadap lebih dari 250 merek dagang pada 27 kategori produk.

Responden mengevaluasi merek yang mereka gunakan atau sedang menjadi pertimbangan untuk digunakan, kemudian menilai relevansinya berdasarkan nilai kualitas seperti inovasi, kegunaan dan ketergantungan.

"Ada banyak jenis pembelian berdasar nilai nasionalistis dalam kategori itu, karena konsumen China menafsirkan apa yang terjadi pada Huawei sebagai serangan terhadap China," kata Milliken.

Patriotisme juga membantu mendorong munculnya merek-merek China lainnya. Pembuat pakaian olahraga, Li Ning Co., masuk ke dalam peringkat 40 teratas untuk pertama kalinya, menjadi peringkat ke-34, hanya dua posisi di belakang pemimpin pasar, Nike Inc.

Dinamai setelah pendirinya, seorang pesenam terkenal, Li Ning memanfaatkan sentimen nasionalistis konsumen China dengan peluncuran koleksi Li-Ning China tahun lalu di New York Fashion Week yang banyak menggunakan warna merah dan kuning, warna nasional China.

Hanya ada dua merek Amerika yang berhasil masuk ke peringkat sepuluh besar tahun ini, antara lain Android di peringkat ketiga dan Intel di peringkat kesembilan .

Menurut Milliken, tidak seperti Apple, Android dan Intel tidak perlu khawatir terhadap pengalihan loyalitas konsumen ke pesaing lokal, menjelaskan mengapa mereka berhasil tetap berada di peringkat tinggi.

"Beberapa merek Barat begitu integral dalam kehidupan konsumen China, mereka hampir cenderung tidak kehilangan relevansi. Tidak ada alternatifnya di China sehingga merek tersebut tetap relevan," ujarnya.

Ketegangan geopolitik bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Apple di China, pasar terbesarnya setelah AS.

Sementara itu, Beijing berusaha menjadikan negara itu pemimpin dalam pengenalan jaringan 5G berkecepatan tinggi, produk terbaru Apple, bahkan termasuk iPhone 11 yang baru diumumkan, tidak mendukung standar nirkabel terbaru yang diperkenalkan China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top