Saham Asia Naik Tipis Berkat Pelonggaran The Fed

Dilansir melalui Reuters, kurva yield tresuri bergerak datar ketika Powell meredam harapan pelonggaran kebijakan berikutnya sementara internal The Fed terpecah telah meningkatkan ketidakpastian tentang seberapa jauh suku bunga akan terus berkurang.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 19 September 2019  |  10:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Saham Asia terpantau mengalami kenaikan tipis pada Kamis (19/9/2019), mengikuti kenaikan di Wall Street pascakebijakan The Fed yang memangkas suku bunga acuannya sesuai dengan perkiraan.

Namun, Gubernur Jerome Powell dan rekannya memberikan sinyal yang beragam untuk pelonggaran selanjutnya sehingga investor tetap berhati-hati.

Dilansir melalui Reuters, kurva yield tresuri bergerak datar ketika Powell meredam harapan pelonggaran kebijakan berikutnya sementara internal The Fed terpecah telah meningkatkan ketidakpastian tentang seberapa jauh suku bunga akan terus berkurang.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang adalah 0,03%. sedangkan Nikkei Jepang naik 0,46%, dan saham Australia naik 0,23%.

Yen diperdagangkan mendekati level terendah tujuh pekan versus dolar AS.

Hari ini, pejabat di Bank Sentral Jepang (BOJ) akan mengadakan pertemuan di mana para pembuat kebijakan diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan ultra-mudah mereka.

BOJ secara umum diperkirakan akan mempertahankan janjinya untuk mempertahankan suku bunga jangka pendek sebesar -0,1% dan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sekitar 0%.

Investor akan mengawasi dengan cermat konferensi pers Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda untuk melihat bagaimana dia menilai risiko terhadap prospek ekonomi Jepang.

Bank-bank sentral di seluruh dunia telah melonggarkan kebijakan untuk melawan risiko inflasi rendah dan resesi. Kebijakan moneter yang lebih mudah umumnya akan mendukung ekuitas.

Namun, beberapa analis berpendapat bahwa reli pasar obligasi sudah terlalu jauh, mengutip bahwa imbal hasil turun terlalu cepat dan pergerakan kurva terlalu rata.

Sementara itu yang lainnya khawatir tentang meningkatnya jumlah utang negara dengan imbal hasil negatif.

Shane Oliver, kepala strategi investasi dan kepala ekonom di AMP Capital Investors, Sydney, mengatakan penguatan saham pascakebijakan The Fed adalah satu hal positif yang kecil untuk harga saham selama tidak ada resesi.

"Satu-satunya masalah adalah kita sudah tahu akan ada pemangkasan 25 basis poin, komentar dan perkiraan dot-plot tidak sesederhana yang diharapkan pasar. Saya pikir The Fed harus memotong lagi. Masih ada beberapa risiko dari kurva yield," ujarnya seperti dikutip melalui Reuters, Kamis (19/9/2019).

Saham berjangka AS di Asia turun sebesar 0,06% pada Kamis (19/9/2019).

Di sisi lain, S&P 500 berhasil membalikkan kerugian hingga berakhir 0,03% lebih tinggi setelah Powell mengatakan dia tidak melihat adanya risiko resesi dan the Fed nampaknya tidak akan mengadopsi suku bunga negatif.

The Fed memotong suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini menjadi 1,75% -2,00% dalam pemungutan suara 7 banding 3, tetapi pada saat yang sama bank sentral mengisyaratkan penurunan suku bunga lebih lanjut tidak mungkin terjadi karena pasar tenaga kerja tetap solid.

Pemotongan suku bunga sudah menjadi perkiraan tetap pasar, tetapi hasil dari pemungutan suara menimbulkan beberapa kekhawatiran tentang masa depan kebijakan moneter AS.

Proyeksi dot-plot The Fed yang disusun oleh 17 anggota pembuat kebijakan menunjukkan ketidakserasian yang lebih serius.

7 suara memperkirakan pemangkasan suku bunga ketiga tahun ini, 5 suara mengatakan pemangkasan bulan ini adalah yang terakhir, dan 5 suara lainnya yang justru tidak setuju dengan keputusan pemangkasan suku bunga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top