Sepanjang Agustus Terjadi 673 Kali Gempa, Tiga di Antaranya Merusak

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Daryono mengatakan sepanjang Agustus 2019 terjadi 673 gempa di Indonesia dan tiga di antaranya bersifat merusak.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 03 September 2019  |  10:15 WIB
Sepanjang Agustus Terjadi 673 Kali Gempa, Tiga di Antaranya Merusak
Ilustrasi-Relawan memeriksa rumah warga yang rusak akibat diguncang gempa di Kampung Karoya, Mandalawangi, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8/2019). Menurut data BPBD Banten satu orang meninggal dan sebanyak 112 rumah rusak berat dan ringan dengan rincian di Lebak sebanyak 12 rumah, di Pandeglang 91 rumah, dan di Serang 9 rumah rusak akibat gempa berkekuatan 6,9 SR yang terjadi Jumat (2/8) malam. - Antara/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA - Ratusan kali gempa tercatat terjadi di Indonesia sepanjang bulan  Agustus 2019.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Daryono mengatakan sepanjang Agustus 2019 terjadi 673 gempa di Indonesia dan tiga di antaranya bersifat merusak.

"Gempa dengan magnitudo signifikan di atas 5,0 terjadi sebanyak 22 kali, sedangkan gempa bumi yang guncangannya dirasakan terjadi sebanyak 56 kali," kata Daryono melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Adapun tiga gempa yang merusak itu, kata dia, adalah Gempa Selatan Banten pada 2 Agustus dengan magnitudo 6,9 (M=6,9) yang merusak tujuh bangunan rumah yang tersebar di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sukabumi.

Kemudian, Gempa Banyuwangi pada 12 Agustus 2019 dengan M=5,0 yang menyebabkan beberapa rumah rusak ringan di Pantai Pancar dan Rajegwesi, Banyuwangi.

Selanjutnya, terjadi Gempa Kaki Gunung Salak pada 23 Agustus 2019 M=4,0 menyebabkan beberapa bangunan rumah warga rusak ringan di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

"Selama Bulan Agustus 2019 juga terjadi gempa swarm. Swarm adalah serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo relatif kecil dengan frekuensi kejadiannya sangat tinggi dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama di wilayah sangat lokal," kata Daryono.

Gempa swarm Madiun, ulas Daryono, terjadi pada 3 Agustus 2019  dengan jumlah gempa lebih dari 19 kali dalam sehari. Swarm juga terjadi di sebelah barat daya Kaki Gunung Salak pada 10-28 Agustus 2019. Selama sekitar 18 hari terjadi gempa lebih dari 84 kali hingga masyarakat resah dan sebagian mengungsi di perkebunan teh.

"Patut disyukuri bahwa aktivitas Swarm saat ini sudah mereda," kata Daryono.

Daryono mengatakan fenomena swarm di Indonesia sudah terjadi beberapa kali, seperti aktivitas swarm di Klangon, Madiun (Juni 2015), Jailolo, Halmahera Barat (Desember 2015) dan Mamasa, Sulawesi Barat (November 2018).

"Jika kita belajar dari berbagai kasus gempa swarm di berbagai wilayah sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm memiliki struktur yang kuat," kata Daryono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top