Menggalang Propaganda Bisnis dan Politik

Jurus menang bersaing, termasuk dalam hal pembentukan opini publik, bisa dilakukan dengan banyak cara. Propaganda adalah salah satunya yang ampuh.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  21:51 WIB
Menggalang Propaganda Bisnis dan Politik
Gedung Putih di Washington DC, AS - Reuters/Jason Reed

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika pendukung fanatik Partai Nazi di Jerman berupaya untuk menghapus sejarah dengan membakar buku-buku serta melenyapkan pria, wanita serta anak-anak yang tak berdosa, Presiden AS Roosevelt memutuskan untuk bertemu dengan George Gallup, pendiri American Institute of Public Opinions.

Dengan menggunakan metode survei yang canggih dan jumlah responden yang hanya 'minimalis' (sekitar 5.000 orang), Gallup dapat memprediksi dengan benar hasil pemilihan presiden di AS saat itu.

Hal tersebut berlawanan dengan apa yang dialami oleh majalah Literary Digest yang bertanya kepada dua juta orang tetapi mereka mendapatkan kesimpulan riset yang keliru tentang hasil akhir pilpres di AS.

Gallup mengatakan kepada Roosevelt sesuatu yang berbeda dengan pendapat pakar propaganda, Edward Bernays. Saya tidak tahu persis, paling tidak hingga tulisan ini dibuat, apakah strategi Roosevelt tersebut juga ditiru di zaman ini oleh capres lainnya di banyak negara. Mungkin Anda punya informasi yang lebih akurat.

Bahasan ini sebatas mengulas bagaimana strategi dan propaganda, termasuk di dalam kehidupan politik, bisnis, dan pemasaran telah mewarnai wajah dunia yang kita lalui ini tanpa kita sendiri menyadarinya, karena memang 'dikemas dengan sangat ciamik'.

Salah satu contoh adalah kisah Roosevelt tadi, yang semakin percaya diri setelah mendapat masukan dari Gallup bahwa rakyat lebih hanya sekadar gerakan massa yang tidak terkendali.

Rakyat Amerika, menurut Gallup, pada kenyataannya merupakan warga negara yang berada pada tahap 'telah menggunakan pikiran mereka'.

Galang Opini

Perang propaganda dan opini pun merebak. Bagian strategi Roosevelt adalah membuat film-film propaganda yang dirancang dengan apik untuk mencela dunia bisnis Amerika (Jonathan Gabay, 2009).

Politisi Amerika itu menuding kalangan public relations korporasi telah menyesatkan masyarakat. Duni usaha dituding hanya mencari untung tanpa peduli pada masyarakat.

Taktik kotor ini langsung direspon pebisnis Amerika dengan strategi menyerang balik. Tugas tersebut diserahkan kepada kepada semacam asosiasi bernama National Association of Manufacturer (NAM).

"Sementara Roosevelt percaya kepada kekuatan pikiran dan interpretasi yang benar, ide-ide Bernays yang diikuti kelompok ini [NAM] menawarkan kekuatan yang lebih besar dan persuasif," tulis Gabay dalam bukunya yang berjudul Soul Trader.

NAM melihat bahwa sebagian besar masyarakat merasa bahwa rasa sedih, senang, dan marah tidak dapat dikendalikan. Namun tindakan untuk meredakannya dapat dijinakan.

Dengan sedikit manajemen emosi yang kreatif, demikian Gabay, hal yang tampaknya tak dapat dikendalikan ini berubah menjadi sesuatu yang dapat dengan mudah dimanipulasi. Bahkan melebihi dari apa yang pernah dibayangkan sebelumnya.

NAM, yang dalam era kini bisa berwujud asosiasi bisnis atau dunia usaha, membuat perencanaan yang luar biasa berdasarkan strategi Barnays untuk menciptakan pengaruh emosional bagi publik dan korporasi di Amerika.

Hal ini yang menjadi penekanan Gabay, seorang pakar forensik branding dan pemasaran global, karena 'pengaruh emosional' ini mengubah strategi pemasaran yang sebelumnya berdasarkan unique selling propositions (USPs) menjadi metode yang yang beberapa dekade kemudian dikenal sebagai emotional selling proposition (ESPs).

Jutaan dolar dibenamkan untuk menggalang kampanye yang didesain sebagai alat bukti bahwa rakyat Amerika tidak berutang budi kepada Gedung Putih. Rakyat Amerika memiliki segalanya, termasuk hal-hal dasar yang membuat mereka benar-benar menjadi orang Amerika, menjadi seorang pemenang sejati yang membangun 'tanah kebebasan'.

Sesuatu yang telah mengubah impian orang-orang Amerika menjadi kenyataan adalah karena para produsen (NAM) bergandeng erat dalam kebersamaan dengan konsumen yang jujur, perkasa dan hebat. Bukannya para politisi!

Sebagai tindak lanjut NAM menggelar 'maha karya' berupa World's Fair pada 1939, di New York, kota besar yang paling menginspirasi dunia. Sebuah perusahaan khusus dibentuk untuk merealisasikannya yaitu New York World' Fair Corp yang beranggotakan pebisnis papan atas dari berbagai sektor usaha.

Dunia Pebisnis

Kalau di Indonesia saat ini mungkin mirip dengan Kadin Indonesia yang pengurusnya notabene adalah pebisnis dari berbagai lapangan usaha.

Dari awal hingga akhir World's Fair dirancang untuk menjadi sesuatu yang mengesankan dan meggelitik. Industri papan atas terjun langsung macam General Motors. American Telephone & Telegraph, Radio Corporation of America, Glass Incorporated, Consolidated Edison Company, American Tobacco Company, General Electric, dan Westing House.

Semua peserta berlomba mempersembahkan 'wahana' untuk menggapai 'tanah impian' yang tak lain adalah American Dream. NAM pun sukses membuat gelaran akbar berskala dunia, yang menunjukkan bahwa 'dunia usaha juga punya kepedulian terhadap kemajuan bangsa'.

Sayangnya, PM Inggris Tony Blair saat berkuasa tidak dapat melakukan propaganda yang jitu meski didukung penuh kalangan pengusaha.

Blair ingin menyambut datangnya milenium baru dengan membangun The Millenium Dome di London, yang bisa dikatakan sebuah proyek mercu suar. "Dengan Millenium Dome ini, kita telah menciptakan sesuatu yang saya percaya akan menjadi mercu suar bagi dunia," ujar Blair.

Namun, menurut Gabay, telah disepakati oleh semua kalangan bahwa kubah tersebut menjadi sesuatu yang mewakili kegagalan humas daripada menjadi kemenangan propaganda.

Di bawah manajemen negara, The Dome tidak dapat membangkitkan semangat emosional dan tidak berbuah pula secara komersial.

Kubah tersebut akhirnya dijual kepada pihak swasta yaitu Anschutz Entertaintment Group, yang kemudian menjual hak penggunaan namanya kepada perusahaan telekomunikasi O2.

Tempat tersebut sempat digunakan sebagai merek duta besar bagi O2 yang menjadi tuan rumah bagi pertunjukan hiburan tingkat dunia.

Kalau dunia politik dan bisnis dunia melakukan propaganda seperti itu, bagaimana dengan Indonesia? Silakan Anda menelisik tanda-tanda zaman yang ada.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
humas

Editor : Inria Zulfikar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top