Mengingat Orang Indonesia yang Jadi Rektor di Luar Negeri

Polemik tentang rencana perekrutan rektor asing di perguruan tinggi swasta dan negeri di Indonesia harusnya mengingatkan bangsa ini, bahwa ada segelintir warga negara indonesia (WNI) yang pernah menjabat sebagai rektor di luar negeri.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  18:41 WIB
Mengingat Orang Indonesia yang Jadi Rektor di Luar Negeri
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat menerima kunjungan tim Bisnis Indonesia, di Kantor Staf Presiden Jakarta, Jumat (6/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Polemik tentang rencana perekrutan rektor asing di perguruan tinggi swasta dan negeri di Indonesia harusnya mengingatkan bangsa ini, bahwa ada segelintir warga negara indonesia (WNI) yang pernah menjabat sebagai rektor di luar negeri.

Mungkin tidak banyak orang yang tahu mengenai keberadaan anak bangsa yang menjadi rektor d luar negeri. Namun, ini merupakan fakta yang tidak boleh dilupakan.

Adalah Soedjatmoko sosok yang dimaksud. Pria kelahiran Sawahlunto 10 Januari 1922 ini terekam dalam sejarah sebagai WNI yang pernah menjadi rektor di salah satu perguruan tinggi di Jepang.

Dikutip dari paper karya Maulida Handayani yang dipublikasikan di academia.edu, Soedjatmoko menjabat sebagai rektor di Universitas PBB, Jepang, pada 1980-1987. Dia juga pernah menjadi kandidat Direktur Jenderal Unesco sebelum akhirnya gagal dan pulang ke Indonesia.

Tokoh yang kerap disapa Koko ini pernah menerbitkan jurnal Het Inzicht dan Siasat ketika muda. Dia juga disebut sempat menolak tawaran Presiden pertama RI Sukarno agar menjadi menteri saat era Demokrasi Terpimpin.

Hidup Soedjatmoko berakhir saat tengah mengisi ceramah di Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) Universitas Gadjah Mada. Maulida menulis penyebab kematian Soedjatmoko “akibat serangan jantung pada 21 Desember 1989.”

Selain Soedjatmoko, tokoh Indonesia lain yang pernah berkiprah di perguruan tinggi luar negeri adalah Ken Kawan Soetanto. Ken adalah pria kelahiran Surabaya, 1 Januari 1951 silam.

Ken tidak pernah menjadi rektor di universitas luar negeri, namun dia sempat menjabat Dekan Urusan Internasional di Waseda University, Jepang. Selain pernah menjadi Dekan di Universitas luar negeri, Ken juga memegang 4 gelar doktor di bidang Rekayasa, Farmasi Sains, Pendidikan, dan Kedokteran.

Jika dulu Indonesia sempat “mengekspor” anak-anak bangsanya bekerja di perguruan tinggi luar negeri, maka saat ini kebijakan sebaliknya dilakukan pemerintah.

Pemerintah berencana mempekerjakan orang asing untuk menjadi rektor di dalam negeri. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan, perekrutan rektor asing akan dimulai dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Rektor asing yang akan dipekerjakan untuk memimpin PTS ini akan berasal dari salah satu negara di Asia. Wiranto berjanji akan mengumumkan negara asal rektor asing ini dalam waktu dekat.

Saat ini Kemenristekdikti tengah mengkaji sejumlah regulasi untuk mendukung perekrutan rektor asing. Aturan yang akan dikaji yakni UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2015 tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum.

Menurut Moeldoko, perekrutan rektor asing bertujuan membangun daya saing Indonesia dalam kompetisi global. Dia memprediksi kehadiran rektor asing akan membuat rektor-rektor dari dalam negeri terpacu semangatnya agar tidak kalah prestasinya.

“Tujuan utama adalah membangun persaingan global, kalau nanti ada rektor asing maka akan malu itu kalau kalah. Untuk membangun kompetisi,” kata Moeldoko di Kantor Bappenas, Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
moeldoko, rektor

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top