Ingin Perguruan Tinggi Indonesia Masuk Peringkat 100 Dunia, Begini Saran Rektor UGM

Indonesia membutuhkan lebih banyak mahasiswa tingkat master dan doktoral untuk mengejar peningkatan ranking pendidikan tinggi dalam peta persaingan global.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  16:13 WIB
Ingin Perguruan Tinggi Indonesia Masuk Peringkat 100 Dunia, Begini Saran Rektor UGM
Ilustrasi wisuda sarjana - Reuters
 
Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia membutuhkan lebih banyak mahasiswa tingkat master dan doktoral untuk mengejar peningkatan ranking pendidikan tinggi dalam peta persaingan global.

Panut Mulyono, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) menuturkan wacana penempatan rektor asing di universitas di Indonesia harus dikaji sejara jernih. Pasalnya banyak variabel yang digunakan lembaga pemeringkat untuk menempatkan sebuah universitas dianggap terbaik dan berstandar dunia.

"Kita sudah tahu bahwa untuk mencapai rangking yang baik di perangkingan dunia sangat jelas apa saja yang dinilai, misalnya jumlah publikasi di jurnal internasional ter indeks, didukung dengan peralatan- peralatan laboratorium yang bagus," kata Punut di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Menurutnya, untuk memenuhi dasar penilaian ini dimulai dengan tersedianya ruang bagi para guru besar melakukan penelitian yang didukung penuh pendanaannya. Selain itu, tersedia dalam jumlah besar mahasiswa tingkat master dan doktoral yang mendampingi untuk melakukan penelitian.

"Di indonesia itu fokus pendidikan [tinggi] masih banyak terbebani di strata-1 (S1). [Untuk meningkatkan ranking pendidikan tingggi] kita juga harus memperbanyak mahasiswa S2-S3 sebagai motor untuk mengerjakan penelitian hebat," katanya.

Meski mendorong peningkatan mahasiswa pascasarjana, Punut mengingatkan peningkatan minat siswa SMA untuk kuliah juga harus dikerjakan. Pasalnya dari data yang ada partisipasi siswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi baru 32%.

Punut menyebutkan, jika kampus diberikan alokasi dana yang layak maka pihaknya dapat mengundang para dosen tamu yang memiliki reputasi internasional. Dosen tamu ini kemudian akan menarik mahasiswa melakukan penelitian serta melakukan penelitian bersama dengan para dosen lokal untuk melahirkan pemikiran paling mutakhir. 
"Tidak harus sebagai dosen tetap tetapi [dosen tamu dengan] mengajar satu semester, kemudian meneliti bersama," katanya.

Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebutkan pihaknya akan mengundang rektor dari luar negeri dalam rangka meningkatkan ranking perguruan tingginya mencapai 100 besar dunia.

Nasir memastikan anggaran untuk menggaji rektor luar negeri akan disediakan langsung oleh pemerintah, tanpa mengurangi anggaran PTN tersebut.

“(Kita nanti tantang calon rektor luar negerinya) kamu bisa tidak tingkatkan ranking perguruan tinggi ini menjadi 200 besar dunia. Setelah itu tercapai, berikutnya 150 besar dunia. Setelah ini 100 besar dunia. Harus seperti itu. Kita tidak bisa targetnya item per item. Bisa tidak mencapai target itu. Nanti (dia harus meningkatkan) publikasinya, mendatangkan dosen asing, mendatangkan mahasiswa asing, bahkan mahasiswa Indonesia bisa kirim ke luar negeri,” ungkapnya dikutip dari siaran pers ristekdikti.go.id.

Pemerintah menargetkan 2020 sudah ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang dipimpin rektor terbaik luar negeri. Ditargetkan pada 2024, ada lima perguruan tinggi Indonesia yang dipimpin oleh rektor luar negeri.

“Kita baru mapping-kan, mana yang paling siap, mana yang belum dan mana perguruan tinggi yang kita targetkan (rektornya) dari asing. Kalau banyaknya, dua sampai lima (perguruan tinggi dengan rektor luar negeri) sampai 2024. Tahun 2020 harus kita mulai,” ungkap Menristekdikti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kementerian pendidikan dan kebudayaan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top