Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mantan Perdana Menteri China Li Peng Meninggal Dunia

Mantan Perdana Menteri China, Li Peng dilaporkan meninggal dunia pada Senin (22/7/2019) dalam usia 90 tahun akibat sakit, menurut kantor berita Xinhua.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  07:29 WIB
Mantan Perdana Menteri Cina Li Peng bersulang di hadapan para tamu pada jamuan makan resmi di Aula Besar Rakyat Beijing untuk merayakan Hari Nasional ke-45 di China 30 September 1994. - Reuters
Mantan Perdana Menteri Cina Li Peng bersulang di hadapan para tamu pada jamuan makan resmi di Aula Besar Rakyat Beijing untuk merayakan Hari Nasional ke-45 di China 30 September 1994. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Perdana Menteri China, Li Peng dilaporkan meninggal dunia pada Senin (22/7/2019)  dalam usia 90 tahun akibat sakit, menurut kantor berita Xinhua.

Mantan ketua Komite Tetap Kongres Rakyat China itu sebelumnya dilaporkan  menderita kanker kandung kemih.

Li  dikenal dunia sebagai salah satu arsitek utama dari pecahnya demonstrasi massa pro-demokrasi di Ibu Kota pada 4 Juni 1989 atau yang dikenal dengan peristiwa Lapangan Tiananmen. 

Meski banyak guncangan dan aksi mahasiswa berkemah selama berminggu-minggu di Lapangan Tiananmen untuk menuntut perubahan, namun Li mampu bertahan lebih dari satu deade menjadi pemimpin tertinggi Partai Komunis yang berkuasa. 

Mantan Perdana Menteri Cina Li Peng (kanan) minum anggur setelah tur dengan perahu di sungai Rhine, sementara istrinya Zhu Lin (kiri)menyaksikannya, di Boppard, Jerman 6 Juli 1994./Reuters

Li mengumumkan darurat militer pada 20 Mei 1989. Dua minggu kemudian, pada malam tanggal 3-4 Juni, militer mengakhiri aksi  protes berdarah yang menewaskan ratusan warga sipil tak bersenjata, namun sebagian kalangan memperkirakan korban tewas lebih dari 1.000 orang.

Meskipun keputusan untuk mengirim pasukan adalah keputusan kolektif, Li secara luas dianggap bertanggung jawab atas tindakan berdarah tersebut.

Li kemudian sering membela keputusan untuk menembaki para demonstran sebagai langkah "yang perlu dilakukan".

"Tanpa langkah-langkah ini China akan menghadapi situasi yang lebih buruk daripada di bekas Uni Soviet atau Eropa Timur," katanya dalam sebuah tur di Austria pada tahun 1994 ketika ekonomi negara itu mulai membaik. 

Li tetap mendapatkan dukungan di antara jutaan pekerja di perusahaan negara karena mengambil pendekatan yang hati-hati terhadap reformasi ekonomi.

Xinhua menyebut Li seorang "prajurit komunisme yang berpengalaman dan loyal, seorang revolusioner dan negarawan terkemuka, dan pemimpin partai dan negara yang luar biasa" seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Rabu (24/7/2019).

Lahir di Provinsi Sichuan di barat daya China, Li menjadi yatim ketika masih balita. Ayahnya, Li Shuoxun, seorang revolusioner Partai Komunis awal, dibunuh oleh pasukan Nasionalis.

Dia dibesarkan di masa kekuasaan Perdana Menteri Zhou Enlai, yang bersama dengan Mao Zedong menjadi pemimpin revolusi Partai Komunis China.

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china kanker partai komunis china Komunis
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top