Perang Dagang AS vs China: Trump Panggil CEO Perusahaan Teknologi Bahas Huawei

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumpulkan para CEO perusahaan teknologi di AS untuk membahas soal Huawei.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  08:57 WIB
Perang Dagang AS vs China: Trump Panggil CEO Perusahaan Teknologi Bahas Huawei
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China bergerak selangkah lebih dekat dengan tatap muka pertama mereka dalam beberapa bulan untuk menegosiasikan isu-isu perdagangan.

Presiden Donald Trump mengadakan pertemuan dengan para CEO perusahaan teknologi di AS pada Senin (22/7/2019) waktu setempat dan membahas sejumlah isu termasuk tentang Huawei Technologies Co.

Gedung Putih mengundang banyak perusahaan teknologi ternama di AS untuk membahas isu-isu ekonomi termasuk kemungkinan dimulainya kembali penjualan kepada raksasa teknologi China tersebut.

Menurut juru bicara Gedung Putih Judd Deere, Trump dan sejumlah pejabat pemerintahan bertemu dengan CEO Google, Broadcom Inc., Cisco Systems Inc., Intel Corp, Micron Technology Inc., Western Digital Corp., dan Qualcomm Inc.

"Para CEO tersebut menyatakan dukungan kuat terhadap kebijakan-kebijakan presiden, termasuk pembatasan keamanan nasional atas pembelian dan penjualan peralatan telekomunikasi Amerika Serikat ke Huawei,” ungkap Deere.

“Mereka meminta keputusan lisensi tepat waktu dari Departemen Perdagangan dan Presiden [Trump] setuju,” lanjutnya, sebagaimana diberitakan Bloomberg.

Xiaomeng Lu, manajer kebijakan internasional di Access Partnership, mengatakan pertemuan itu menjadi kesempatan bagi perusahaan-perusahaan AS.

Mereka dapat menunjukkan bagaimana melanjutkan penjualan untuk bisnis konsumen Huawei dapat membantu perusahaan-perusahaan Amerika berinovasi lebih baik dan mengungguli raksasa telekomunikasi China itu dalam jangka panjang.

Curhat CEO

Sebagian besar dari mereka yang diundang adalah pemasok teknologi ke Huawei, salah satu produsen smartphone dan peralatan jaringan komputer terbesar di dunia.

Produsen chip khususnya telah mengatakan bahwa larangan total untuk melakukan bisnis dengan perusahaan China itu mungkin lebih merugikan daripada manfaatnya bagi keamanan nasional AS.

Banyak komponen yang mereka suplai ke Huawei dapat dengan mudah diperoleh dari perusahaan-perusahaan di tempat lain.

Hal itu juga dapat membahayakan akses ke pasar terbesar mereka serta berisiko memotong kesempatan pendapatan yang penting untuk berinvestasi demi mempertahankan keunggulan AS dalam hal semikonduktor.

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email setelah pertemuan itu, Intel menyatakan menghargai kesempatan untuk berbagi "perspektif tentang isu-isu ekonomi, termasuk bagaimana situasi perdagangan saat ini dengan China berdampak pada industri semikonduktor AS yang kritis”.

Adapun CEO Micron Sanjay Mehrotra mengatakan menghargai kesempatan untuk berdiskusi dan menekankan bahwa "perdagangan terbuka dan adil sangat penting bagi kepemimpinan teknologi AS yang sedang berlangsung".

China Menyambut Baik

Pertemuan antara pejabat pemerintah dan pemimpin perusahaan teknologi AS ini sendiri dapat mengurangi kekhawatiran China bahwa salah satu perusahaan teknologi terbesarnya berada di bawah ancaman eksistensial akibat masuk daftar hitam.

Media pemerintah China pada Senin (22/7) menyambut tanda-tanda progres untuk Huawei sebagai bagian dari apa yang disebutnya upaya untuk menampilkan "ketulusan dan niat baik" dari kedua belah pihak.

Setiap pelonggaran pembatasan terhadap Huawei diharapkan akan diiringi dengan dimulainya kembali pembelian kedelai dan komoditas pertanian lainnya asal AS oleh China.

Perusahaan-perusahaan China telah mulai bertanya kepada para eksportir AS tentang membeli produk-produk pertanian dan juga mengajukan permohonan pembebasan dari tarif pembalasan China atas barang-barang tersebut, seperti dilaporkan Xinhua News Agency pada Minggu (21/7).

Pada Jumat (19/7), pemerintah China bertemu dengan pembeli kedelai dalam negeri tentang rencana untuk membeli lebih banyak suplai AS, menurut orang yang mengetahui situasinya.

Tentangan Kongres

Pertemuan tersebut, pasca pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 Jepang pada akhir Juni, dimaksudkan untuk membuka jalan kunjungan ke China oleh Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin paling cepat pada pekan depan.

Perjalanan semacam itu akan menandai misi negosiasi tingkat tinggi pertama ke China sejak perundingan perdagangan antara kedua negara berakhir buntu pada Mei.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Larry Kudlow dan Mnuchin akan memimpin tim perunding AS. Selain mereka, akan turut pula Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross dan Lighthizer, menurut sumber terkait.

Meski demikian, anggota parlemen dan pihak lainnya dalam pemerintahan AS yang menentang pelonggaran untuk Huawei dapat menghalangi progres sementara dalam menyelesaikan sengketa perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu.

Trump kemungkinan besar akan menghadapi kritikan dari Kongres AS jika dia memilih untuk melancarkan pengiriman kepada Huawei, terutama setelah Washington Post melaporkan pada Senin (22/7) bahwa perusahaan itu membantu membangun jaringan 3G Korea Utara yang berpotensi melanggar undang-undang kontrol ekspor AS.

Banyak anggota parlemen AS, termasuk kubu Republik yang dihuni Trump, menentang pendekatannya tentang masalah ini dan telah berargumen untuk langkah yang akan memutus Huawei dari komponen-komponen Amerika.

“Di setiap kesempatan, kita belajar lebih banyak tentang aktor jahat Huawei,” ujar Senator Tom Cotton dan Chris Van Hollen dalam sebuah pernyataan pasca laporan Washington Post.

Pengungkapan ini, tambah mereka, menggarisbawahi rangkaian pelanggaran hukum AS oleh Huawei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top