Vietnam Mulai Waspada dengan Ancaman Tarif Trump

Lonjakan produksi di Vietnam seharusnya membuat para pelaku industri manufaktur senang, ternyata mereka saat ini justru resah jika sewaktu-waktu Donald Trump mengarahkan ancaman tarifnya ke arah Hanoi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  17:50 WIB
Vietnam Mulai Waspada dengan Ancaman Tarif Trump
Pekerja merakit mobil di pabrik Vinfast di Hai Phong, Vietnam, Jumat (14/6/2019). - Reuters/Kham

Bisnis.com, JAKARTA -- Lonjakan produksi di Vietnam seharusnya membuat para pelaku industri manufaktur senang, ternyata mereka saat ini justru resah jika sewaktu-waktu Donald Trump mengarahkan ancaman tarifnya ke arah Hanoi.

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan tarif yang lebih tinggi kepada China, produksi di Vietnam mengalami overdrive.

Pabrikan China, yang saat ini dibebani dengan tarif impor AS sebesar 55%, memindahkan beberapa kegiatan produksi mereka ke Vietnam, sedangkan bisnis lokal menikmati lonjakan pesanan.

Pada Juni saja, impor sel surya AS dari Vietnam melonjak 656% secara tahunan.

Lonjakan perdagangan yang meliputi berbagai macam sektor mulai dari produk furnitur IKEA hingga sepatu Nike Inc. tersebut kini memicu pengawasan Washington, potensi ini membuat produsen seperti IREX resah.

"Kami khawatir AS akan menaikkan tarif pada produk panel surya kami. Meskipun pasar AS sangat besar, ini adalah pasar yang rumit jika menyangkut isu politiknya," ujar COO IREX Pham Thi Thu Trang, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (12/7/2019).

Vietnam terus membuka diri bagi investor asing selama bertahun-tahun untuk menjadi pusat manufaktur di kawasan Asia, dengan keberadaan top seperti Samsung Electronics Co, Intel Corp, dan Nestle SA yang mendirikan pabrik di sana.

Keterbukaan perdagangan, serta tenaga kerja murah dan kedekatannya dengan China, membantu Vietnam berhasil menavigasi proteksionisme global yang berkembang ketika sebagian besar pelaku industri mencari perlindungan dari perang dagang.

Dengan laju yang sangat cepat, peringkat Vietnam terus naik untuk menjadi mitra dagang AS yang signifikan.

Surplus perdagangan tahunan Vietnam dengan AS telah melampaui US$20 miliar sejak 2014 dan mencapai US$40 miliar tahun lalu.

Berdasarkan data Biro Sensus AS, ini merupakan pencapaian tertinggi dari catatan pada 1990-an silam.

Untuk 5 bulan pertama tahun ini, surplus perdagangan Vietnam-AS sudah lebih tinggi 43% dari US$21,6 miliar tahun lalu.

Pemerintahan Trump sekarang menekan agar negara berpenduduk 97 juta jiwa tersebut memangkas surplus perdagangannya, mengancam salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Masalah dimulai pada Mei, ketika Departemen Keuangan AS menambahkan Vietnam ke daftar pantauan negara-negara yang dimonitor berpotensi melakukan manipulasi mata uang.

Sebagai tanggapan atas tekanan AS, Vietnam kemudian mengumumkan tindakan keras terhadap eksportir China yang mengalihkan produk melalui negara Asia Tenggara dengan label Made-in-Vietnam palsu untuk memotong tarif Trump.

Bulan lalu, Trump menggambarkan Vietnam sebagai satu-satunya penindas terburuk ketika ditanya apakah dia berniat untuk mengenakan tarif impor terhadap negara tersebut.

AS juga baru saja memberlakukan bea lebih dari 400% untuk impor baja Vietnam yang berasal dari Korea Selatan dan Taiwan.

Kebijakan ini menempatkan para pejabat Vietnam dalam posisi yang tidak nyaman.

“Mereka sangat gugup dan bingung. Mereka tidak tahu apa langkah Trump selanjutnya," kata Alexander Vuving, seorang profesor di Pusat Studi Keamanan Asia-Pasifik Daniel K. Inouye di Hawaii.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vietnam, Donald Trump, perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup