Menkes Temui Perawat Indonesia di Jepang

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menemui 19 perawat yang bekerja sebagai caregiver di Panti Izumien Eldery Care dan Sakuraen Elderly Care Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 29 Juni 2019  |  17:18 WIB
Menkes Temui Perawat Indonesia di Jepang
Menkes Nila Moeloek - Bisnis/Nur FaizahAl Bahriyatul Baqiroh

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menemui 19 perawat yang bekerja sebagai caregiver di Panti Izumien Eldery Care dan Sakuraen Elderly Care Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu.

Nila menjelaskan, penempatan para perawat ini merupakan kerja sama Indonesia-Jepang yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008.

"Hingga kini, telah ditempatkan 2.445 perawat dengan skema Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement [Ijepa]," kata Nila seperti dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (29/6).

Para perawat yang ditemui Nila tersebut sebagian besar lulusan institusi pendidikan keperawatan yang ada di daerah, seperti dari Nias, NTT, NTB, Denpasar, Semarang, Indramayu, Cirebon, Banyuwangi dan Sukabumi.

Para lulusan D3 dan S1 Ners telah bekerja selama 1 – 8 tahun dan telah ada yang lulus sebagai caregiver tersertifikasi di Jepang sebagai Kaigofukushishi.

Untuk diketahui, agar dapat mengikuti ujian nasional Kaigofukushishi Jepang, kandidat harus memiliki pengalaman kerja minimal 4 tahun di panti Lansia Jepang.

Nila terus mendorong agar para caregiver meningkatkan statusnya, agar tidak hanya menjadi caregiver tetapi menjadi perawat yang sebenarnya atau Kangosi sesuai latar belakang pendidikannnya.

Untuk diketahui, menjadi Kangosi sesuai standar Jepang cukup berat, di antaranya memiliki kemampuan bahasa Jepang N-1, memiliki STR, serta pengalaman kerja minimal 2 tahun dengan transkrip/kurikulum yang diakui oleh pemerintah Jepang.

Ketua panti Mr. Michio Sekeni menyatakan bahwa para caregiver ini sangat kompeten dalam melayani Lansia, dan sebagai bentuk apresiasi untuk para caregiver ini setiap tahun panti tersebut mengadakan acara liburan bersama ke suatu tempat. Rencananya, tanggal 6 -10 Juli mendatang 30 caregiver akan diajak liburan ke Bali.

Pasca kunjungan tersebut, Nila berkeinginan untuk menggagas panti Lansia dengan sarana dan prasarana seperti di Jepang di suatu wilayah Indonesia, misalnya di Bali.

Selain itu, Menkes juga ingin menyelenggarakan suatu sistem asuransi kesehatan khusus bagi para Lansia, sehingga panti tersebut nantinya dapat memfasilitasi para Lansia di Jepang yang akan berlibur ke Indonesia.

Misalnya pada saat di Jepang musim dingin para Lansia Jepan bisa dibawa ke Indonesia berjemur di Bali dan ditempatkan di panti bukan di hotel agar selama liburan tetap kesehatannya terjaga.

“Tentunya panti tersebut dilengkapi dengan SDM yang mumpuni di bidangnya, misalnya para caregiver dan para perawat yang sudah bekerja di Jepang dan habis masa kontraknya, dapat bekerja di panti tersebut,” kata Menkes Nila.

Di samping itu dipersiapkan juga tenaga dokter, dokter gigi, fisiotherapy, dan psikologi klinik, sehingga orang-orang Jepang yang ada di Indonesia juga dapat memanfaatkan panti tersebut, selain tentu orang Indonesianya sendiri.

Panti itu juga dapat digunakan sebagai wahana praktek calon caregiver maupun perawat yang akan bekerja di luar negeri, karena permintaan tenaga perawat maupun caregiver setiap tahunnya cukup meningkat. Sayangnya, Indonesia belum dapat memenuhi secara maksimal.

Berkenaan dengan hal itu saat ini ada 12 Poltekkes Kemenkes yang sedang disiapkan untuk memenuhi permintaan tenaga tersebut baik melalui pendidikan maupun pelatihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenkes

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top