Diminta Batasi Program Nuklir, Iran Nilai 'Rayuan' Eropa Kurang Memikat

Sejak AS menjatuhkan kembali sanksi ekonomi atas Teheran, Iran juga mulai melanjutkan lagi program pengembangan nuklirnya.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 29 Juni 2019  |  10:25 WIB
Diminta Batasi Program Nuklir, Iran Nilai 'Rayuan' Eropa Kurang Memikat
Perwakilan Iran dan negara-negara Eropa menghadiri pertemuan membahas program nuklir Iran pascasanksi AS di Wina, Austria, Jumat (28/6/2019). - Reuters/Leonhard Foeger

Bisnis.com, JAKARTA -- Iran menilai negara-negara Eropa tidak memberikan dorongan yang cukup untuk mengajak negara Timur Tengah itu melanjutkan pembatasan program nuklirnya.
 
Iran bersama negara-negara yang terlibat di perjanjian nuklir damai, minus AS yang sudah keluar sejak 2018, menggelar pertemuan darurat di Wina, Austria. Pertemuan itu diselenggarakan sebagai upaya membujuk Iran tetap melanjutkan pembatasan nuklirnya.
 
"Pertemuan ini merupakan sebuah kemajuan tapi tetap tidak cukup dan tidak memenuhi harapan Iran," ucap Deputi Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araqchi seperti dilansir Reuters, Sabtu (29/6/2019).
 
Dia melanjutkan keputusan akhir terkait program nuklir tersebut berada di tangan pemimpin Iran. Namun, Araqchi menilai pembicaraan terbaru ini tak akan mengubah pemikiran para atasannya.
 
"Keputusan untuk keluar dari sebagian komitmen kami sudah dibuat dan kami akan meneruskannya kecuali harapan kami terpenuhi. Saya tidak merasa apa yang sudah dicapai hari ini akan cukup untuk menghentikan proses [nuklir] kami tapi keputusan akan dibuat di Teheran," paparnya.
 
Demi mempertahankan Iran dalam kesepakatan nuklir damai, negara-negara Eropa telah membuat sebuah mekanisme barter dengan Iran bernama INSTEX. Dengan demikian, Iran tetap bisa berdagang dengan negara-negara lain.
 
Uni Eropa (UE) menyampaikan bahwa INSTEX telah beroperasi dan transaksi pertama sedang diproses. Meski demikian, mekanisme ini kemungkinan hanya dapat digunakan untuk transaksi kecil untuk produk-produk seperti obat-obatan, yang tidak termasuk dalam daftar sanksi dari AS.
 
Terkait hal ini Araqchi menuturkan bahwa mekanisme baru itu hanya akan membantu Iran jika bisa dipakai untuk transaksi minyak.
 
Seperti diketahui, sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir damai pada tahun lalu, hubungan Iran dan AS memburuk. AS juga kembali menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi atas Iran, termasuk yang terkait minyak dan perbankan.
 
Iran pun mengungkapkan sedang kembali mendorong program nuklirnya dan batasan pengayaan uranium yang mereka lakukan diklaim akan segera melampaui batas yang diperbolehkan dalam kesepakatan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran, nuklir

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top