Realisasi Kesepakatan Dagang AS-China Butuh Waktu Lebih Panjang?

Amerika Serikat dan China tengah bersiap untuk kembali ke meja diskusi dan memulai babak baru perundingan dagang. Menuju agenda pertemuan di sela-sela KTT G20 yang akan diadakan di Jepang pada akhir pekan ini, hubungan antar mesin ekonomi terbesar di dunia tersebut terlihat jauh lebih tegang dan diwarnai dengan ketidakpercayaan sepanjang masa kepresidenan Donald Trump
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  18:55 WIB
Realisasi Kesepakatan Dagang AS-China Butuh Waktu Lebih Panjang?
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Amerika Serikat dan China tengah bersiap untuk kembali ke meja diskusi dan memulai babak baru perundingan dagang.

Sementara itu, pasar keuangan menyambut gembira rencana pertemuan tersebut meski nampaknya kesepakatan dagang masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terealisasi.

Menuju agenda pertemuan di sela-sela KTT G20 yang akan diadakan di Jepang pada akhir pekan ini, hubungan antar mesin ekonomi terbesar di dunia tersebut terlihat jauh lebih tegang dan diwarnai dengan ketidakpercayaan sepanjang masa kepresidenan Donald Trump.

Sejak perundingan dagang menemui kebentuan pada bulan lalu, Trump tidak hanya menaikkan tarif impor China, ancamannya bahkan menjadi lebih intens dengan memulai perang teknologi setelah menempatkan Huawei Technologies Co. ke dalam daftar hitam dengan tujuan memutus rantai pasokan dengan perusahaan AS.

Dikutip melalui Bloomberg, AS saat ini sedang berupaya untuk melakukan reformasi besar-besaran terhadap kebijakan China tentang berbagai hal mulai dari perlindungan kekayaan intelektual, penyaluran subsidi untuk perusahaan yang menguntungkan serta pengurangan defisit perdagangannya dengan China.

Pada Mei, China menolak keras untuk mensahkan perjanjian reformasi tersebut ke dalam undang-undang, dengan alasan Beijing akan memilih untuk mengimplementasikannya melalui arahan Dewan Negara.

Sikap tersebut bertolak belakang dengan klaim AS yang mengatakan bahwa Washington berhasil membujuk China untuk mengubah dan menyepakati kebijakan baru.

Sejak saat itu, AS telah menaikkan tarif impor pada US$200 miliar produk China dan berencana untuk memberlakukan tarif pada sisa impor China senilai US$300 miliar.

Di sisi lain, China tetap teguh pada pendiriannya dan secara terbuka menuntut agar AS menghapus semua kebijakan tarif meskipun permintaan tersebut akan sulit dikabulkan oleh pejabat AS.

"Menggunakan tarif sebagai alat untuk mengubah sikap Beijing memang bukan langkah yang bagus," ujar Tom Donilon, mantan penasihat keamanan nasional pada era pemerintahan Obama, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (27/6).

Menjelang pertemuan akhir pekan ini, para pejabat AS berulang kali menekankan bahwa Beijing harus tunduk pada kesepakatan yang telah disetujui dalam draft yang sudah disusun selama proses perundingan berlangsung.

Adapun, penasihat perdagangan Trump yang cukup vokal terkait dengan isu ini, Peter Navarro, mengatakan bahwa Washington telah memegang laporan setebal 150 halaman yang isinya adalah kesepakatan dagang yang sudah disetujui oleh kedua belah pihak, namun diingkari oleh China.

"Kita lihat saja nanti ke arah mana perudingan ini akan berjalan," kata Navarro.

Bahkan, jika kedua belah pihak berhasil menemukan jalan keluar menuju negosiasi lebih lanjut, China kemungkinan besar akan bersiap untung kompetisi jangka panjang.

Sementara itu, China telah bersikap sedikit lebih lunak terkait dengan program kebijakan industri unggulan, Made in China 2025, tanpa menanggapi keluhan dari AS, Presiden China Xi Jinping terus menyampaikan kebutuhan mendesak China untuk mengejar inovasi karya bangsa dan pengembangan teknologi inti.

Sengketa yang turut menyeret perusahaan teknologi raksasa China, Huawei, meningkatkan fokus pada isu perang teknologi, meskipun belum ada kepastian apakah Xi maupun Trump akan membahas nasib perusahaan tersebut.

Meskipun Trump telah menyebutkan kemungkinan pembahasan terkait isu sanksi Huawei dalam agenda perundingan dagang berikutnya, dia saat ini berada di bawah tekanan baik dari komunitas garis keras-keamanan nasional dan kongres untuk tidak terburu-buru membuat kesepakatan apapun.

"Meski demikian sejumlah pihak yang pernah bekerja dengan Trump menunjukkan, baik itu dari segi isu Huawei maupun lingkup yang lebih luas untuk melepas ketergantungan AS terhadap China, sang presiden akan menunjukkan sikap yang lebih pragmatis daripada yang diinginkan oleh para penasihatnya," seperti dikutip melalui Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup