Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menlu Iran Zarif: Kelompok Garis Keras Pendukung Trump ‘Haus’ Perang

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa kelompok garis keras di sekitar Presiden Donald Trump haus akan perang ketimbang mengambil langkah diplomasi menyusul dijatuhkannya sanksi terhadap para petinggi negara republik Islam tersebut.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  10:37 WIB
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif - Reuters
Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa kelompok garis keras di sekitar Presiden Donald Trump haus akan perang ketimbang mengambil langkah diplomasi menyusul dijatuhkannya sanksi terhadap para petinggi negara republik Islam tersebut.

Pernyataan itu disampaikan  Zarif melalui akun Twitter miliknya seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (25/6/2019). 

Sanksi yang turut menyasar pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu menambah pukulan baru terhadap ekonomi Iran setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak Amerika Serikat pekan lalu.

Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin mengatakan Zarif akan dikenakan sanksi pembekuan aset minggu ini.

Zarif pernah mengatakan bahwa apa yang disebutnya sebagai Tim B termasuk penasihat keamanan nasional Trump John Bolton adalah kelompok garis keras yang bersemangat, sedangkan Perdana Menteri Israel yang konservatif Benjamin Netanyahu bisa  membuat Trump terlibat dalam konflik dengan Teheran.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan kemarin bahwa Amerika Serikat sedang membangun koalisi dengan sekutunya untuk melindungi jalur pelayaran Teluk dengan memantau semua pengiriman baranag termasuk bahan bakar minyak. Langkah itu diambil menyusul serangan baru-baru ini pada kapal tanker minyak yang dituding Washington dilakukan oleh Iran.

Tehran telah membantah keterlibatannya dalam ledakan yang telah menghantam enam kapal, termasuk dua kapal tanker minyak Saudi, dekat Selat Hormuz. Selat itu merupakan wilayah perdagangan hampir seperlima dari minyak dunia.

 Pernyataan Zarif tentang militer AS yang tidak memiliki kepentingan di Teluk tampaknya merujuk pada kicauan sebelumnya ketika Trump mengatakan negara-negara lain harus melindungi pengiriman minyak mereka sendiri di Timur Tengah daripada meminta Amerika Serikat melindungi mereka.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iran amerika serikat Donald Trump
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top