Xi Jinping: Tak Ada Benturan Peradaban dan Supremasi Rasial

Presiden China Xi Jinping menyatakan tidak ada benturan peradaban dan menyebut supremasi rasial sebagai tudingan yang bodoh di tengah ketegangan hubugan dengan Amerika Serikat (AS).
John Andhi Oktaveri | 16 Mei 2019 07:07 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) saat kunjungan ke Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Reuters/Damir Sagolj

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden China Xi Jinping menyatakan tidak ada benturan peradaban dan menyebut supremasi rasial sebagai tudingan yang bodoh di tengah ketegangan hubugan dengan Amerika Serikat (AS).

Xi  Jinping juga mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatiran dengan kebangkitan kekuatan global China saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Xi Jinping sebagai tanggapan atas pernyataan seorang pejabat tinggi AS bulan lalu yang menggambarkan persaingan antara China dan AS sebagai "pertarungan dengan peradaban dan ideologi yang berbeda".

Kiron Skinner, direktur perencanaan kebijakan di Departemen Luar Negeri AS, menyebut persaingan kedua negara dalam istilah rasial. Dia mengatakan pada forum keamanan bahwa China adalah "pesaing kekuatan besar AS pertama yang bukan Kaukasia".

"Berpikir bahwa ras dan budaya seseorang lebih unggul, dan bersikeras mengubah atau bahkan mengganti peradaban lain adalah bodoh dalam pemahaman dan malapetaka dalam praktiknya," kata Xi pada upacara pembukaan Konferensi Dialog Peradaban Asia di Beijing sebagaimana dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (16/5/2019).

Jika budaya manusia hanya mengambil satu corak maka dunia akan menjadi terlalu membosankan dan tidak menarik, ujarnya sembari memuji kebajikan budaya yang beragam.

Dia mengatakan telah mengunjungi banyak tempat di dunia. Paling menarik bagi Xi Jinping dalah budaya dengan pesona yang berbeda, seperti kota kuno Samarkand di Asia Tengah, Kuil Luxor di Mesir, Sentosa di Singapura, Wat Phra Kaew di Thailand dan Acropolis of Athens di Yunani, dan sebagainya, katanya.

"Tidak ada bentrokan antara peradaban yang berbeda, (kita) hanya perlu memiliki mata untuk menghargai keindahan di semua peradaban," tambahnya tanpa menyebut Amerika Serikat.

Pidato Xi Jinping disampaikan kurang dari seminggu setelah negosiasi perdagangan antara Washington dan Beijing berubah menjadi lebih buruk. AS mengenakan tarif impor produk China senilai US$200 miliar dan menargetkan berikutnya sebesar US$300 miliar lebih.

Pada Senin (13/5/2019), China membalas dengan pengumuman bahwa mereka akan menaikkan tarif barang-barang AS senilai US$60 miliar mulai 1 Juni mendatang.

Kedua negara terjebak dalam pertempuran untuk memengaruhi perdagangan global. Tak hanya ketegangan diplomatik dan ekonomi, AS juga memantik permusuhan dengan China  dengan memberikan bantuan militer ke Taiwan. AS juga  mengkritik program infrastruktur global Belt and Road Beijing.

Pengaruh China yang meningkat juga telah meningkatkan alarm di Asia, terutama karena terus menegaskan klaim teritorialnya yang luas di Laut China Selatan dan Laut China Timur yang disengketakan.

Bulan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperingatkan Beijing untuk mundur dari pulau yang dikuasai Manila di Laut China Selatan. Filipina mengancam kemungkinan aksi militer jika Beijing "menyentuh" pulau itu.

Pidato Xi Jinping pada hari Rabu (15/5/2019) juga berfokus pada promosi kolaborasi lintas-budaya di seluruh wilayah dan mendesak negara-negara Asia lainnya untuk memperkuat kepercayaan budaya.

"Atas dasar prestasi gemilang yang diperoleh nenek moyang kita, kita akan ... berusaha untuk terus menulis kemuliaan baru peradaban Asia," katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, amerika serikat, xi jinping, perang dagang AS vs China

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup