Khawatirkan Ancaman Iran, AS Perintahkan Stafnya Keluar dari Irak

Pemerintahan Presiden Donald Trump menerapkan tekanan sanksi baru pada Teheran dan mengatakan pihaknya telah mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah untuk melawan apa yang disebutnya ancaman tinggi dari Iran kepada tentara AS dan kepentingannya di wilayah tersebut.
John Andhi Oktaveri | 16 Mei 2019 05:59 WIB
Kapal Induk Amerika Serikat John C Stennis - public.navy.mail

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat memerintahkan pemulangan karyawan dari misi diplomatiknya di Irak untuk menunjukkan kekhawatiran atas ancaman dari Iran.

Helikopter terliat lepas landas sepanjang hari dari kompleks kedutaan besar dekat Sungai Tigris tersebut. Para staf AS dibawa keluar, menurut sumber Irak dan sumber diplomatik dalam Zona Hijau di Baghdad yang menyebutnya menuju pangkalan militer di bandara Baghdad.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menerapkan tekanan sanksi baru pada Teheran dan mengatakan pihaknya telah mengirim pasukan tambahan ke Timur Tengah untuk melawan apa yang disebutnya ancaman tinggi dari Iran kepada tentara AS dan kepentingannya di wilayah tersebut.

Iran menyebut bahwa langah itu sebagai ‘perang psikologis’. Sedangkan seorang komandan Inggris meragukan kekhawatiran militer AS tentang ancaman terhadap sekitar 5.000 tentaranya di Irak, yang telah membantu pasukan keamanan Irak memerangi para jihadis ISIS.

Kemenlu AS menyatakan para karyawan di kedutaan AS di Baghdad dan konsulatnya di Erbil, ibu kota wilayah semi-otonomi Kurdistan, ditarik segera karena masalah keamanan.

Tidak jelas berapa banyak personel yang terdampak dan tidak ada berita tentang ancaman khusus. Layanan visa ditangguhkan di misi AS yang dijaga ketat.

“Memastikan keselamatan personel dan warga negara AS adalah prioritas tertinggi kami ... dan kami ingin mengurangi risiko bahaya,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri As yang tidak mau disebutkan namanya seperti dikutip Reuters, Kamis (16/5/2019).

Kedutaan Belanda di Baghdad mengatakan di akun Twitternya bahwa staf mereka tetap bekerja. Sedangkan tentara Prancis tidak memiliki rencana untuk menangguhkan kegiatan pelatihan militer di Irak.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
irak, Donald Trump

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup