Terima Kerohiman dari PT KAI, Uang Warga Garut ini Dilarikan Penipu

Nasib pilu dialami seorang wanita warga Garut, Jawa Barat, yang terkena kebijakan reaktivasi jalur kereta api. Uang kerohiman yang ia terima dari PT KAI malah dilarikan penipu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Mei 2019  |  12:33 WIB
Terima Kerohiman dari PT KAI, Uang Warga Garut ini Dilarikan Penipu
Ilustrasi-Karyawan menghitung uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, GARUT - Nasib pilu dialami seorang wanita warga Garut, Jawa Barat, yang terkena kebijakan reaktivasi jalur kereta api. Uang kerohiman yang ia terima dari PT KAI malah dilarikan penipu.

Warga yang  terdampak reaktivasi jalur kereta api Stasiun Garut-Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini semula berencana menggunakan uang kerohiman tersebut sebagai modal berjualan. Niat selanjutnya, uang hasil pengembangan lewat berjualan itu akan dijadikan uang muka untuk membeli rumah.

"Saya bingung mau ke mana, uang yang sudah saya terima habis kena tipu," kata Iis Lisda (46) penerima uang untuk mengganti bangunan rumah yang berdiri di lahan PT KAI di Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, Minggu (12/5/2019).

Ia menuturkan, PT KAI telah mentransfer uang kerohiman sebesar Rp18 juta, pemberian uang dilakukan lebih dulu sebelum pembongkaran bangunan yang terdampak reaktivasi kereta api di jalur rel Garut Kota.

Rencana pembongkaran rumah yang masih lama itu, Iis memanfaatkan uang tersebut untuk modal berdagang agar mendapatkan keuntungan dari usahanya, selanjutnya keuntungannya akan digunakan sebagai uang muka rumah baru.

"Uang itu seharusnya dipakai uang muka rumah, tapi dibawa kabur oleh orang lain," katanya.

Ia mengungkapkan kisah pilunya itu berawal setelah uang yang diterimanya dari PT KAI pada Maret 2019 diberikan kepada seseorang yang mengaku dari Kabupaten Pangandaran untuk membeli barang gula, kelapa dan pisang.

Barang tersebut, kata dia, rencananya untuk memasok ke Pasar Induk Ciawitali, Garut, namun sekian lama ditunggu barang tersebut tidak kunjung datang ke Garut, bahkan orang tersebut tidak diketahui keberadaannya.

"Janjinya mau kirim barang satu truk, tapi sampai sekarang tidak datang juga, saya sudah cari ke Pangandaran, tapi katanya kabur ke Lampung," kata Iis.

Kini Iis harus meninggalkan rumah di lahan PT KAI, dan tinggal sementara di rumah saudaranya di kawasan Kerkof, Garut Kota, sambil mencari usaha untuk keluar dari masalahnya itu.

"Sekarang rumah di sini sudah dikosongkan, enggak tahu mau pindah ke mana, mudah-mudahan ada rezeki yang lain," katanya.

Sementara itu, PT KAI sudah hampir selesai membongkar seluruh bangunan yang berdiri di sepanjang jalur kereta api Stasiun Cibatu-Garut. Saat ini yang masih proses pembongkaran di kawasan perkotaan Garut atau sekitar Stasiun Garut.

Reaktivasi kereta api di Garut itu ditargetkan selesai pembangunannya akhir 2019, dan bisa dilintasi kereta api dan digunakan masyarakat pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penipuan

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top