Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Undecided Voters Turun, Ini Parpol yang Elektabilitasnya Terdongkrak

Hasil survei Indikator Politik Indonesia per 29 Maret 2019 menunjukkan bahwa undecided voters pada kontestasi Pemilu Legislatif (Pemilu) 2019 berangsur-angsur turun.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 04 April 2019  |  00:17 WIB
Undecided Voters Turun, Ini Parpol yang Elektabilitasnya Terdongkrak
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi memaparkan hasil survei Indikator Politik Indonesia terkait
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Hasil survei Indikator Politik Indonesia per 29 Maret 2019 menunjukkan bahwa undecided voters pada kontestasi Pemilu Legislatif (Pemilu) 2019 berangsur-angsur turun.

"Pemilih yang belum menentukan pilihan dalam simulasi pilihan partai menunjukkan tren menurun. Makin dekat pemilu, undecided voters berkurang menjadi 9,2 persen," ungkap Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Rabu (3/4/2019).

Survei menunjukkan, undecided voters dari yang sebelumnya 19,6 persen pada Oktober 2018, kemudian 17,9 persen pada Desember 2018, dan kini hanya menyisakan 9,2 persen pada Maret 2019.

Dari undecided voters yang telah memilih tersebut, ternyata bukan parpol besar yang "terciprat" berkah elektabilitas suara mereka. Tetapi, justru banyak parpol menengah dan bawah yang memiliki peningkatan signifikan.

Yang pertama, ada Partai Demokrat yang kini telah mencapai 8,7 persen dari yang sebelumnya 5,8 persen pada Oktober 2018 dan 6,4 persen pada Desember 2018. Partai yang identik dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono ini bahkan hampir menyaingi PKB yang cenderung stagnan di angka 8,8 persen.

"PKB dan Demokrat ini keduanya bersaing ketat. Tapi PKB stagnan, Demokrat ini merangkak naik," jelas Burhanuddin.

Parpol menengah lain yang elektabilitasnya meroket, yaitu NasDem dan PKS. NasDem yang pada Desember 2018 hanya 4,2 persen, kini telah menginjak 5,7 persen. Sedangkan PKS sebelumnya 4,1 persen, naik menjadi 6,0 persen.

Sisanya, PPP, PAN, dan Hanura sebagai parpol menengah yang moncer pada Pileg 2014, masing-masing justru memiliki tren penurunan.

Selain parpol menengah, parpol baru atau parpol kecil seperti Perindo dan PSI ternyata dianggap berhasil meningkatkan popularitas, walaupun masih harus berjuang melewati parliamentary threshold atau ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

Perindo naik dari 1,2 persen pada Desember menjadi 2,6 persen pada Maret. Sedangkan PSI berhasil keluar dari ejekan partai nol koma (parnoko), yaitu 0,3 pada Desember menjadi 1,3 persen pada Maret.

"Efek iklan di televisi kelihatan membantu meningkatkan popularitas dan elektabilitas mereka. Jadi aturan larangan kampanye sebelum diperbolehkan itu memang agak merugikan partai baru ya," ungkapnya.

Sisanya, yaitu Partai Garuda, Berkarya, PBB, dan PKPI, masih sangat jauh dari harapan untuk lolos ke Senayan sebab elektabilitas mereka masih parnoko atau di bawah satu persen.

Sementara itu, dari parpol tiga besar hanya Golkar yang berhasil menaikkan elektabilitasnya di sisa waktu kampanye sebelum 17 April 2019. Yaitu, dari 9,2 persen pada Desember menjadi 11,5 persen pada Maret 2019.

Lainnya, yaitu partai utama yang mendapatkan berkah efek ekor jas (coattail effect) akibat figur capres besutan partainya, justru mengalami penurunan walaupun terbilang kecil.

Gerindra dari Desember 12,5 persen turun menjadi 11,7 persen pada Maret 2019. Sedangkan kandidat juara PDIP pun turun dari sebelumnya 24,9 persen menjadi 24,2 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

survei capres Pilpres 2019
Editor : Akhirul Anwar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top