Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Swing dan Undecided Voters Terbelah, Militansi Pendukung Jadi Kunci

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia memprediksi, undecided voters dan swing voters dalam Pilpres 2019 akan terbagi sama rata antara pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf dan nomor urut 02 Prabowo-Sandi.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 03 April 2019  |  18:59 WIB
Swing dan Undecided Voters Terbelah, Militansi Pendukung Jadi Kunci
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri), Ketua KPU Arief Budiman (tengah) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019)/JIBI - Bisnis/Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga survei Indikator Politik Indonesia memprediksi, undecided voters dan swing voters dalam Pilpres 2019 akan terbagi sama rata antara pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf dan nomor urut 02 Prabowo-Sandi.

Peneliti Indikator Politik Indonesia Adam Kamil menjelaskan peta undecided voters dan swing voters tersebut di samping elektabilitas awal yaitu 55,4 persen untuk Jokowi-Ma'ruf dan 37,4 persen untuk Prabowo-Sandiaga.

Dari elektabilitas tersebut, apabila dipetakan lebih dalam tercatat basis kuat paslon 01 ternyata hanya 46,6 persen sedangkan paslon 02 hanya 29,2 persen. Sisanya, persentase swing voters masih 16,9 persen dan undecided voters masih 7,2 persen.

Dari temuan tersebut, Adam mencoba mengidentifikasi kemungkinan arah dukungan swing dan undecided voters dilihat dari kemiripan atau kedekatan pada sejumlah karakteristik, diperbandingkan dengan karakteristik dari pemilih basis kuat masing-masing paslon.

"Karakteristik apa yang dibandingkan? Yaitu karakteristik-karakteristik yang dari teori perilaku politik itu biasanya sangat menjelaskan pilihan politik, misalnya sosiologis, psikologis, dan perilaku politik," ungkap Adam di kantor Indikator, Rabu (3/4/2019).

Beberapa karakteristik tersebut antara lain, usia, pendidikan, pendapatan, gender, wilayah bermukim (desa/kota), agama, etnis, kesukaan pada kandidat, kinerja Jokowi, kepemimpinan Jokowi, kondisi ekonomi, ekonomi nasional, kondisi politik, penegakkan hukum, pilihan partai koalisi, evaluasi Debat Pilpres III, isu negatif Jokowi, dan dukungan ketika Pilgub DKI Jakarta.

Hasilnya setelah dirata-rata menunjukkan, ternyata 54,5 persen swing voters cenderung lebih memilih Prabowo-Sandiaga dibandingkan 45,5 persen Jokowi-Ma'ruf. Sedangkan untuk undecided voters, keduanya sama rata masing-masing 50 persen.

Sehingga apabila prediksi tersebut didistribusikan kepada elektabilitas masing-masing paslon, Jokowi-Ma'ruf mendapat tambahan 11,3 persen menjadi 57,9 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga mendapat tambahan 12,8 persen menjadi 42,1 persen.

"Artinya potensi menang paslon 01 itu besar, tapi dua minggu ini bisa jadi sangat menentukan. Karena kalau misalkan tim 02 bisa meyakinkan atau menarik kelimpok yang swing [voters] lebih besar lagi, maka hasilnya bisa jadi berbeda," tambahnya.

Sebab itulah, menindaklanjuti hasil penelitian Adam, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan bahwa militansi dari masing-masing pendukung untuk datang ke TPS akan menentukan perbedaan hasil akhir tersebut.

"Buat saya yang menentukan hasil akhir nanti tanggal 17 April, selain kekuatan dari masing-masing paslon, kemudian variabel-variabel lain di luar dari apa yang dikerjakan oleh paslon dan timses, ada juga variabel militansi dari masing-masing pemilih," jelas Burhanuddin dalam kesempatan yang sama.

"Karena [elektabilitas] 55 persen versus 37 persen itu didasarkan potret akhir Maret, di mana surveyor yang aktif mendatangi pemilih," tambahnya.

Apa yang diungkapkan Burhanuddin terkait militansi pemilih, senada dengan kesimpulan pendapat beberapa peneliti lembaga survei lain. Di antaranya, Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

Peneliti CSIS Arya Fernandes berpendapat paslon dan tim sukses membutuhkan mobilisasi pemilih untuk datang ke TPS. Sebab, tingkat kemantapan para pemilih sudah tinggi, tetapi partisipasi mereka yang untuk datang ke TPS masih rendah.

Dirinya pun mengapresiasi kedua kubu yang telah mengupayakan peningkatan militansi tersebut. Misalnya, Rabu Putih besutan kubu 01, dan gerakan subuh berjemaah dilanjut jargon Kepung TPS besutan kubu 02.

Sedangkan peneliti LSI Ikrama Masloman menjelaskan setiap pasangan calon mesti waspada menghadapi kemungkinan alasan Golput dari enam kantong suara pemilih Indonesia yang diteliti LSI.

Ikrama menyebut, pihak Jokowi-Ma'ruf yang akan banyak dirugikan apabila kategori minoritas, muslim, wong cilik, emak-emak, dan milenial banyak yang tidak militan ke TPS atau Golput. Sementara itu, Prabowo-Sandi hanya akan dirugikan apabila suara Golput berasal dari kategori terpelajar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

survei capres Pilpres 2019
Editor : Akhirul Anwar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top