AS Diperkirakan Resesi, Saham Global Terguncang

Kekhawatiran tentang kondisi ekonomi dunia meningkat pekan lalu setelah pernyataan dovish The Fed mengakibatkan imbal hasil tresuri 10 tahun merosot ke level terendah sejak awal 2018.
Nirmala Aninda | 25 Maret 2019 13:21 WIB
Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Investor meninggalkan investasi saham dan memilih untuk bermain aman dengan obligasi pada perdagangan Senin (25/3/2019).

Sementara yen Jepang hampir mencapai level tertinggi selama enam pekan terakhir, saat aset berisiko merosot karena kekhawatiran terhadap resesi Amerika Serikat yang memberikan sinyal pelemahan global.

Saham berjangka AS melemah dengan E-mini untuk S&P 500 merosot 0,5 persen. Sementara itu indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat turun 1,4 persen ke level terendah selama satu pekan dalam aksi jual ekuitas besar-besaran di wilayah tersebut.

Dilansir melalui Reuters, Nikkei Jepang turun 3,2 persen ke level terendah dalam dua pekan, sementara indeks Kospi Korea Selatan turun 1,6 persen. Di sisi lain, saham Australia turut mengalami pelemahan sebesar 1,3 persen.

Saham China juga mencatatkan penurunan dengan indeks blue-chip CSI 300 turun sebesar 0,8 persen.

Pada Jumat (22/3), tiga indeks saham utama AS mencatatkan persentase kerugian terbesar harian (one-day percentage losses) sejak 3 Januari 2019.

Dow tercatat turun 1,8 persen, S&P turun 1,9 persen dan Nasdaq turun 2,5 persen.

Kekhawatiran tentang kondisi ekonomi dunia meningkat pekan lalu setelah pernyataan dovish The Fed mengakibatkan imbal hasil tresuri 10 tahun merosot ke level terendah sejak awal 2018.

Imbal hasil tresuri 10 tahun AS tercatat pada posisi 1,9 basis poin di bawah suku bunga tiga bulan, setelah inversi yield untuk pertama kalinya terjadi sejak 2007 pada Jumat pekan lalu.

Secara historis, kurva inversi yield, di mana tingkat jangka panjang jatuh di bawah jangka pendek, menandakan resesi yang akan datang.

"Pergerakan harga pasar obligasi adalah sinyal yang sangat keras bagi siapapun yang mencoba untuk bersikap optimistis terhadap saham," kata analis JPMorgan dalam sebuah catatan kepada klien, seperti dikutip melalui Reuters, Senin (25/3/2019).

"Pertumbuhan, kurva obligasi atau imbal hasil, akan menjadi satu-satunya hal yang harus difokuskan pada saham ke depan dan sangat sulit untuk membayangkan segala jenis reli hingga kepercayaan ekonomi kembali stabil dan obligasi berbalik," tulis analis JP Morgan.

Kekhawatiran yang semakin besar terhadap penurunan global menyebar luas menyusul data output manufaktur Jerman yang terkontraksi selama tiga bulan berturut-turut.

Di Amerika Serikat, menurut data dari IHS Markit, proyeksi awal kegiatan manufaktur dan jasa untuk Maret menunjukkan kedua sektor ini akan tumbuh lebih lambat dari Februari.

Data dari pemodelan kurva resesi yang dirilis National Australia Bank (NAB) menunjukkan resesi AS akan terjadi pada 10 hingga 18 bulan ke depan dengan probabilitas 30 persen - 35 persen.

"Risiko resesi AS telah meningkat dan memberikan sinyal lampu kuning. Kondisi ini akan memberikan pasar optimisme peluang pemangkasan suku bunga The Fed," kata ahli strategi NAB Tapas Strickland, yang berbasis di London.

Ketika obligasi menguat pada Senin  (25/3), imbal hasil pada obligasi pemerintah Jepang 10-tahun merosot ke minus 9 basis poin, terlemah sejak September 2016. Sementara itu imbal hasil 10-tahun Australia jatuh ke rekor terendah 1,754.

Meski demikian, beberapa analis, seperti Rob Carnell dari ING, menyarankan agar tidak terburu-buru menetapkan kesimpulan potensi resesi hanya dari data inversi yield.

"Kami menduga bahwa menarik kesimpulan resesi dari data tersebut tidak terjamin sampai kurva hasil 3M-10Y terinversi dengan jumlah yang substansial," kata Carnell. 

ISU POLITIK

Sebagian besar kekhawatiran seputar pertumbuhan global berasal dari Eropa dan China yang berjuang melawan perang tarif terpisah dengan Amerika Serikat.

Politik juga menjadi fokus di Amerika Serikat dan Inggris.

Penyelidikan yang berjalan hampir dua tahun terhadap AS tidak menunjukkan adanya bukti kolusi antara tim pemilihan Donald Trump dan Rusia, ini merupakan kemenangan politik besar bagi Trump saat ia mempersiapkan diri untuk pertempuran pemilihan umum untuk periode kedua pada 2020.

Gejolak politik di Inggris tentang Brexit juga menjadi hambatan bagi aset berisiko.

Surat kabar milik Rupert Murdoch, Sun, pada Minggu (24/3),  mengabarkan dalam halaman editorial bahwa Perdana Menteri Inggris Theresa May dituntut untuk mundur dari jabatannya sesaat setelah kesepakatan Brexit disetujui.

Pound Inggris melemah di posisi US$1,3198 setelah pergerakan yang tak menentu selama tiga hari berturut-turut dan tercatat turun 0,7 persen pekan lalu.

Di pasar mata uang, yen Jepang yang saat ini dianggap sebagai safe haven, melonjak hampir mencapai level tertinggi sejak 11 Februari, nilainya tercatat 0,1 persen lebih tinggi pada posisi 109,77 per dolar AS.

Dolar Australia, di sisi lain, tercatat menurun selama tiga sesi berturut-turut ke level US$0,7076.

Dalam pasar komoditas, minyak mentah AS turun 61 sen menjadi US$58,43 per barel. Minyak mentah berjangka Brent turun 60 sen menjadi US$66,43.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
resesi, ekonomi amerika serikat, Brexit

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top