Intelijen Global Kumpulkan Data Brenton Tarrant, Pelaku Teror di Masjid Selandia Baru

Intelijen global dari empat negara mengumpulkan data tentang Brenton Tarrant, pelaku penembakan di dua masjid Selandia Baru.
JIBI | 21 Maret 2019 13:40 WIB
Brenton Tarrant didakwa atas pembunuhan sehubungan dengan serangan masjid,saat penampilannya di Pengadilan Distrik Christchurch, Selandia Baru 16 Maret 2019. - Reuters

Bisnis.com, WELLINGTON -  Selain pemerintah Selandia Baru, kalangan intelijen global menjadikan kasus penembakan di dua masjid di kota Christchuch fokus perhatian.

Kepala Polisi Selandia Baru Komisioner Mike Bush mengatakan lembaga intelijen global mengumpulkan informasi mengenai Brenton Harrison Tarrant, terdakwa serangan teror di Selandia Baru.

Selain dari Selandia Baru, lembaga intelijen yang terlibat dalam investigasi kasus ini berasal dari Australia, Kanada dan Inggris.

“Saya bisa pastikan kepada Anda bahwa ini adalah investigasi internasional secara penuh,” kata Bush kepada media seperti dilansir Reuters pada Rabu, 20 Maret 2019 waktu setempat.

Tarrant, yang berasal dari Kota Grafton, New South Wales, Australia, melakukan penembakan massal terhadap jamaah salat Jumat di dua masjid yaitu masjid Al Noor dan masjid Linwood.

Sebanyak 50 orang tewas dalam penembakan membabi-buta yang juga menyasar perempuan dan anak-anak itu. Sebanyak 29 orang masih menjalani perawatan medis di rumah sakit dengan delapan orang dalam kondisi kritis.

Seorang WNI bernama Lilik Abdul Hamid termasuk korban meninggal.

Banyak korban yang menjalani operasi berulang karena menderita luka tembak yang kompleks. Pelaku menggunakan dua senapan AR-15 dengan magazine yang berukuran besar serta sebuah shotgun.

Reuters melansir media mempertanyakan lemahnya undang-undang senjata, yang akan diperketat oleh pemerintahan PM Jacinda Ardern.

Media juga bertanya kepada Bush apakah otoritas cukup fokus dalam memantau risiko yang muncul dari ekstremis sayap kanan.

Bush juga menjelaskan tim koroner sedang berusaha keras mempercepat proses identifikasi serta pemeriksaan penyebab kematian para korban. Ini agar otoritas bisa segera menyerahkan jasad para korban kepada keluarganya untuk dikuburkan.

“Keluarga para korban merasa resah dengan penundaan karena ajaran Islam mengatur jasad agar dikubur dalam waktu 24 jam,” begitu dilansir Reuters.

“Kita tidak bisa mendakwa pembunuhan jika tidak mengetaui penyebab kematian. Jadi ini proses yang komprehensif yang harus diselesaikan sesuai standar tertinggi,” kata Bush.

Pada Rabu, enam orang korban telah dikuburkan termasuk seorang ayah dan putranya yang merupakan pengungsi asal Suriah. Keduanya adalah Khaled dan Hamza Mustafa.

Ayah dan anak ini baru tiba beberapa bulan di Selandia Baru. Anak lelaki kedua, Zaid Mustafa, terluka tembak dan menjalani perawatan dengan duduk di kursi roda. Dia ikut menghadiri upacara pemakaman sambil ditemani sejumlah anggota keluarga korban teror di Selandia Baru.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
selandia baru, penembakan, intelijen

Sumber : TEMPO.CO

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup