Perang Tagar Pilpres 2019 di Twitter Tak Terlalu Berguna Jaring Pemilih. Ini Penjelasannya

Selain sudah mencapai titik jenuh, perang tagar di twitter terkait Pilpres 2019 tidak terlalu berdampak dalam mempengaruhi calon pemilih.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  18:33 WIB
Perang Tagar Pilpres 2019 di Twitter Tak Terlalu Berguna Jaring Pemilih. Ini Penjelasannya
Perang Tagar Pilpres 2019 di Twitter Tak Terlalu Berguna Jaring Pemilih - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — CEO Cyrus Network Hasan Nasbi menilai bahwa keriuhan kampanye pasangan capres-cawapres di media sosial telah mencapai titik jenuh. Hal itu juga tidak akan terlalu berguna untuk menjaring pemilih.

Hal ini terungkap berdasarkan survei Cyrus Network per 23 Januari 2019 tentang aktivitas responden pengguna medsod atau akrab disapa netizen (warganet) terkait wacana Pilpres.

"Kampanye politik di media sosial secara umum memang terlihat sangat ramai dan panas. Begitu juga melalui pesan berantai. Namun, tampaknya populasi orang yang terlibat tidak berkembang dan cenderung jenuh," ujar Hasan dalam diskusi publik bertajuk "Pertarungan Darat dan Medsos Capres-Cawapres 2019", di Hotel Akmani, Kamis (28/2/2019).

Hasan mengungkapkan beberapa alasan terkait hal tersebut. Pertama, terlihat jelas bahwa pemilih yang terkoneksi dengan medsos hanya 39,2% berbanding 60,8% yang tidak terkoneksi.

Bahkan, dari pemilih yang terkoneksi, keikutsertaan pada jenis medsos yang ada di Indonesia terlihat minim. Yaitu, pengguna WhatsApp 33,4%, Facebook 32,4%, Instagram 14,1%, Line 6,0%.

Terakhir, Twitter yang keriuhannya begitu terasa dengan perang tanda pagar (tagar) atau hastag, justru menjadi paling minim dengan hanya 3,7%.

"Jadi ini sebenarnya kampanye di sini [Twitter] enggak efektif-efektif amat. Tapi anehnya, ini yang justru menjadi favorit para politikus dan timses di Indonesia," tambah Hasan.

Begitu pula dengan masuknya informasi politik atau Pilpres, dan partisipasi warganet untuk ikut menyebarkan informasi tersebut, persentasenya begitu kecil dari suara pemilih yang terkoneksi.

Pemilih yang mendapatkan informasi seputar Pilpres di Facebook hanya 25,5%, WhatsApp 17,6%, Instagram 9,3%, ; Line 3,7%; terakhir Twitter 2,8%.

Dari yang mendapatkan informasi tersebut, yang aktif ikut menyebarkan wacana dan meluruskan hoaks di Facebook 12,8% dan 7,1%, sementara di Instagram 3,7% aktif dan 2% meluruskan hoaks.

Sementara itu, dua media sosial berbasis chatting yaitu Line dan WhatsApp memiliki pengguna yang aktif menyebarkan isu Pilpres masing-masing 1,7% dan 8,8%. Sementara yang ikut meluruskan hoaks masing-masing 1,0% dan 5,2%.

Twitter kembali menjadi yang paling rendah, sebab dari 1,2% pengguna yang aktif menyebarkan isu Pilpres, hanya 0,8% yang mau ikut meluruskan hoaks.

Oleh sebab itu, Hasan menilai sebenarnya polemik perang tagar di Twitter tidak terlalu signifikan menarik pemilih. Timses kedua pasangan calon mestinya lebih menitikberatkan perang darat atau strategi door-to-door daripada sekadar perang cuitan.

"Jadi dari ceruk 40% yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan suara, di tengah ketegangan politik jika hanya setengahnya yang bisa dioptimalkan, itu artinya hanya sekitar 20% dari total keseluruhan populasi," ungkap Hasan.

"Jadi pekerjaan rumah terbesar dan terpenting bagi masing-masing timses ke depan adalah memaksimalkan ceruk perang darat yang sama sekali jauh dari optimal," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Medsos, Pilpres 2019

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup