Pemerintah Larang Azan, Presiden Jokowi : Logikanya Enggak Masuk

Presiden Joko Widodo meminta masyarakat untuk terus waspada dan melawan berita palsu yang dapat merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  19:35 WIB
Pemerintah Larang Azan, Presiden Jokowi : Logikanya Enggak Masuk
Presiden Joko Widodo. - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo terus menyerukan kepada masyarakat untuk melawan berita-berita fitnah dan kabar palsu atau hoaks.

Penegasan Presiden Jokowi disampaikan saata membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konperensi Besar (Konbes) Nahladul Ulama ke-2, di Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019) siang seperti dikutip dari keterangan resmi.

Presiden Jokowi menyinggung maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks dengan fitnah-fitnah menjelang hajatan besar Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) bulan April mendatang.

“Saya titip ini harus betul-betul direspons dengan baik oleh NU, terutama kalau ada fitnah-fitnah, isu-isu yang dari pintu ke pintu. Sudah dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah,” pesan Presiden.

Kalau yang disampaikan merupakan kebaikan, tentu memberikan hal positif. Berbeda, jika yang disampaikan adalah hal-hal yang meresahkan, yang mengkhawatirkan masyarakat,

Presiden meminta ini yang harus dicegah dan harus direspons. “Kita harus berani merespons ini,” tegas Presiden.

Presiden menunjuk contoh hoaks pemerintah akan melarang kumandang azan. Diakui Presiden, secara logika hal itu tidak bisa diterima akal sehat.

Demikian juga terkait berita soal pemerintah akan melegalkan perkawinan sejenis.  “Kalau yang percaya hanya 20—30 kita diamkan tidak apa-apa tapi kalau sudah jutaan seperti itu harus direspons dan dijelaskan kepada umat, kepada santri-santri kita, kepada lingkungan-lingkungan kita,” ucap Presiden merujuk hasil survei yang menyebut masyarakat banyak yang percaya berita palsu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, ulama, nahdlatul ulama

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup