Penyaluran Kredit Dorong Laba DBS Group Kuartal IV/2018

DBS Group Holding Ltd. mengandalkan kinerja penyaluran kredit untuk mendongkrak laba pada kuartal IV/2018 di tengah guncangan pada unit usaha trading, investasi kekayaan, operasi perbankan investasi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  17:14 WIB
Penyaluran Kredit Dorong Laba DBS Group Kuartal IV/2018
DBS Group Holdings Ltd - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- DBS Group Holding Ltd. mengandalkan kinerja penyaluran kredit untuk mendongkrak laba pada kuartal IV/2018 di tengah guncangan pada unit usaha trading, investasi kekayaan, operasi perbankan investasi.

Pendapatan bersih perseroan tumbuh 10% menjadi 1,32 miliar dolar Singapura atau senilai US$972 juta pada kuartal yang berakhir pada 31 Desember 2018. Realisasi ini sedikit meleset dari proyeksi rata-rata sebesar 1,34 miliar dolar Singapura yang diolah dari survei Bloomberg.

Di sisi lain, unit tresuri DBS membukukan kerugian sebelum pajak yang disebabkan oleh penurunan biaya manajemen kekayaan ke level terendah selama 2 tahun.

Meski demikian saham perusahaan mencatatkan kenaikan karena investor yang cukup percaya diri bahwa DBS akan terus mendapat keuntungan dari pertumbuhan kredit dan tingkat bunga kredit tinggi meskipun ada potensi risiko dari perang dagang AS - China.

Di tengah kejatuhan pasar saham dari AS hingga Asia, bank terbesar di Asia Tenggara tersebut juga harus menghadapi risiko yang sama seperti institusi keuangan lainnya seperti UBS Group AG dan Credit Suisse Group AG.

Kevin Kwek, seorang analis di Sanford C. Bernstein mengatakan bahwa perang dagang tidak mempengaruhi kinerja bank yang mencatatkan peningkatan margin, serta pertumbuhan kredit dan perbaikan kualitas kredit.

"Dengan ini, tantangan perang dagang tetap akan menantang bagi pasar selama belum ada solusi penyelesaian, penetapan harga di pasar belum bisa pulih jika kedua negara masih melanjutkan perselisihan," kata Kwek, seperti dikutip oleh Bloomberg pada Senin (18/2/21019).

CEO DBS Group Piyush Gupta menyampaikan dalam paparan kinerja perusahaan bahwa dia mengharapkan pertumbuhan kredit satu digit dan peningkatan margin bunga bersih dapat berlanjut tahun ini.

Saham DBS meroket sebesar 2% pada perdagangan pagi di Singapura, menjadikan mereka salah satu pencetak keuntungan (gainers) terbesar di Straits Times Index. 

Adapun, sepanjang tahun ini saham perusahaan tercatat naik lebih dari 6% setelah sebelumnya mencatatkan penurunan sebesar 4,7% pada 2018.

Selain itu, saham Oversea-Chinese Banking Corp dan United Overseas Bank Ltd. turut mengalami peningkatan.

Kedua bank pemberi pinjaman berbasis di Singapura ini dijadwalkan akan menyampaikan hasil kinerja dan laporan pendapatan pada Jumat (22/2/2019).

"Kami percaya hasilnya akan menunjukkan hal baik dengan ekspektasi pertumbuhan akan melampaui ekspektasi dari pihak lain, " ujar Krishna Guha, seorang analis di Jefferies, Singapura.

Meskipun penyaluran kredit mengalami peningkatan, unit bisnis lain seperti tresuri DBS Group tercatat mengalami kerugian sebelum pajak sebesar 54 juta dolar Singapura akibat rendahnya kontribusi dari aktivitas kredit dan ekuitas.

Menurut perusahaan, operasional unit tresuri bergerak pada bidang penataan, pembentukan pasar, dan perdagangan berbagai produk tresuri.

Kerugian sebelum pajak dari unit ini lebih tinggi dari kerugian yang dicatatkan pada kuartal II/2018 yakni sebesar 50 juta dolar Singapura. Menurut Gupta, realisasi pada kuartal kedua tahun lalu merupakan kondisi tersebut merupakan yang terburuk sejak dia bergabung di perusahaan satu dekade lalu.

Pendapatan dari bisnis manajemen kekayaan merosot 4% menjadi 218 juta dolar Singapura ke level terendah selama 2 tahun. Menurut DBS hal ini disebabkan oleh ketidakpastian pasar keuangan.

Pasar saham yang jatuh di kuartal keempat mengurangi selera investasi di antara klien bank Singapura.  Indeks Dunia MSCI turun hampir 14% dalam periode tersebut dan merupakan penurunan kuartalan terburuk sejak 2011.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dbs, dbs group

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top