Airbus Setop Produksi Pesawat Superjumbo A380 pada 2021, Begini Nasib Karyawan

Airbus menghentikan produksi pesawat A380 superjumbo pada 2021 setelah perusahaan itu gagal memasarkan pesawat bertingkat dua tersebut.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 15 Februari 2019  |  09:23 WIB
Airbus Setop Produksi Pesawat Superjumbo A380 pada 2021, Begini Nasib Karyawan
Airbus A380, pesawat penumpang jet terbesar di dunia, membuat pusaran saat melakukan pameran terbang di Paris Air Show ke 51 di bandara Le Bourget dekat Paris, Kamis (18/6/15). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Airbus menghentikan produksi pesawat A380 superjumbo pada 2021 setelah perusahaan itu gagal memasarkan pesawat bertingkat dua tersebut.

"Tanpa Emirates, kami tidak memiliki jaminan penting dan dasar untuk meneruskan produksi A380 setelah 2021," kata Guillaume Faure, yang mengambil alih jabatan CEO Airbus dari Tom Enders musim semi ini dalam sebagaimana dikutip CNN.com, Jumat (15/2/2019).

Menurutnya, pesawat terakhir A380 akan dikirim pada 2021.

Keputusan itu diambil setelah Emirates mengurangi jumlah permintaan pesawat bermuatan 800 penumpang itu. Maskapai asal Uni Emirat Arab tersebut hanya memesan 14 pesawat dari sebelumnya 53 pesawat. Sebagai gantinya, Emirates memesan 70 pesawat yang lebih kecil, A330 dan A350.

Tren menggunakan pesawat yang lebih kecil dan efisien, membuat pesawat A380 tidak kompetitif.

Penghentian produksi diperkirakan akan memengaruhi 3.500 pekerja Airbus dari total 14.000 pekerja. Produsen pesawat itu menyebut akan memidahkan pekerja dalam jumlah signifikan ke bagian produksi lainnya.

Menurutnya, hal ini tidak akan berpengaruh pada pengurangan karyawan.

Rhys McCarthy, petugas persatuan kedirgantaraan di Inggris menyebut mereka tengah memastikan kepada Airbus bahwa tidak terjadi pemotongan karyawan besar-besaran.

Di sisi lain, Enders menyebut bahwa mereka perlu mengevaluasi rencana pengurangan karyawan di Inggris.

"Kami harap bisa menggunakan dan memberdayakan pekerja dalam jumlah yang signifikan di sana," katanya ketika berbicara di markas besar Airbus di Perancis.
"Kami melihat ini adalah akhir dari pesawat besar dengan empat mesin," jelasnya.

Ia pun mengakui kalau perusahaannya terlambat untuk mengembangkan pesawat berukuran besar. Sebab, Boeing, perusahaan manufaktur pesawat asal Amerika Serikat telah mengembangkan superjumbo 747 selama 50 tahun. Airbus baru meluncurkan A380 pada 2007.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
airbus, airbus a380

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top