Tim Ekonomi Prabowo-Sandi Godok Cara Atasi Defisit APBN

Tim ekonomi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019-2024 nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi) akan menggodok cara dalam menangani defisit yang selalu menghantui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Yusran Yunus | 31 Januari 2019 18:52 WIB
Anggota DPR Fraksi Gerindra, Ramson Siagian (paling kiri) saat tampil sebagai pembicara dalam Diskusi Rabu Biru bertemakan "Kemelut Hutang di Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi" di Media Center Prabowo-Sandi, Rabu sore (30/01/2019)/Bisnis - Yusran Yunus

Bisnis.com, JAKARTA - Tim ekonomi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019-2024 nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi) akan menggodok cara dalam menangani defisit yang selalu menghantui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

"Saat Amerika Serikat dipimpin oleh Bill Clinton, dia sukses membuat APBN-nya zero deficit. Di tahun-tahun berikutnya mencatat surplus. Itu bisa kita lakukan, kalau ada keinginan kuat untuk melakukannya," kata juru debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ramson Siagian, seusai menjadi pembicara dalam Diskusi Rabu Biru bertemakan "Kemelut Hutang di Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi" di Media Center Prabowo-Sandi, Rabu sore (30/01/2019).

Ramson yang anggota DPR dari Fraksi Gerindra ini menjelaskan keinginan kuat memperbaiki keuangan negara dengan melakukan reformasi APBN menjadi komitmen Prabowo-Sandi jika rakyat Indonesia memberikan mandatnya melalui Pemilihan Presiden pada 17 April 2019.

Kondisi keuangan negara di bawah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang menumpuk utang dalam jumlah fantastis - memasuki tahun keempat masa jabatannya sudah mencetak utang pemerintah sebesar RpRp4.418 Triliun lebih - sudah masuk dalam  situasi memprihatinkan, membutuhkan penanganan yang tepat dan cepat.

"Jika rakyat memberikan kepercayaan dan mandatnya kepada Prabowo-Sandi, pembenahan kondisi keuangan negara yang sudah memprihatinkan saat ini akan menjadi salah satu prioritas Prabowo-Sandi," ujarnya.

Dalam diskusi itu, Ramson mengatakan klaim pemerintahan Jokowi yang menggunakan utang untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur, patut dipertanyakan. Pasalnya sejumlah proyek pembangunan infrastruktur seperti proyek pembangkit listrik 35.000 MW, tidak berjalan sesuai target.

"Hanya sekitar 5% yang beroperasi mendistribusikan listrik, sekitar 95% belum rampung," ujarnya.

Ramson menegaskan idealnya utang yang dilakukan pemerintah bisa menggenjot penerimaan negara untuk mencicil utang. "Yang terjadi saat ini tidak seperti itu. Malahan buat utang baru untuk menutupi utang. Istilahnya gali lubang tutup lubang," ujarnya.

Turut tampil sebagai pembicara dalam diskusi ini yakni Ramson Siagian (anggota DPR) dan Kusfiardi (mantan Koordinator Koalisi Anti Utang).

Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengungkap di awal pemerintahan Jokowi, saldo utang pemerintah tercatat Rp2.608 Triliun, memasuki tahun ke-4, saldo utang pemerintah melonjak menjadi Rp4.418 Triliun.

"Yang lebih memprihatinkan kita adalah penggunaan utang tersebut tidak tepat sasaran. Tidak jelas penggunaannya untuk apa, berapa untuk bayar bunga, untuk dipakai subsidi tidak ada rinciannya, semuanya tidak transparan. Pemerintahan Jokowi tidak transparan dalam soal pengelolaan utang tersebut," kata Fuad Bawazier.

Tag : defisit, Pilpres 2019, prabowo-sandi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top