Tiga Bank Sentral di Asia "Istirahat Sementara" dari Kondisi Siaga

Tiga bank sentral di Asia yang tampil terdepan dalam siklus pengetatan dapat beristirahat sementara untuk menaikkan suku bunga. Tapi, hal itu tidak akan bertahan lama karena Bank Sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan mulai bergerak lagi untuk mengerek suku bunganya pada bulan depan.
Dwi Nicken Tari | 02 November 2018 15:23 WIB
Bank sentral AS, The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA—Tiga bank sentral di Asia yang tampil terdepan dalam siklus pengetatan dapat beristirahat sementara untuk menaikkan suku bunga.

Tapi, hal itu tidak akan bertahan lama karena Bank Sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan mulai bergerak lagi untuk mengerek suku bunganya pada bulan depan.

Selain itu, beberapa sinyal meningkatnya tensi dagang antara AS—China juga dapat membuat para pembuat kebijakan di India, Indonesia, dan Filipina mulai “kembali siaga”.

“Kami memperkirakan, ini hanya pemberhentian sementara (temporary halt),” kata Reza Siregar, Head of Asean and India Research di Institute of International Finance, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (2/11/2018).

Dia menjelaskan, akhir dari siklus pengetatan moneter di negara maju bukanlah suatu penyelesaian bagi Indonesia, India, dan Filipina yang telah berjuang menjaga nilai tukar dan arus modal keluar besar-besaran belakangan ini.

Adapun sentimen untuk pasar keuangan kini datang dari ancaman Presiden AS Donald Trump. Presiden Trump berencana menggandakan tarif terhadap produk impor asal China jika pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir bulan ini tidak membawa hasil.

Selain itu, Pemilu Paruh Waktu di AS pada 6 November 2018 juga diperkirakan dapat membawa elemen ketidakpastian yang dapat mengguncang pasar negara berkembang (emerging market).

Selain itu, ancaman lain juga datang dari perlambatan ekonomi China dan pergerakan harga minyak.

India dan Indonesia menjadi negara yang paling terpukul oleh aksi jual yang menerpa emerging market di sepanjang tahun ini. Akibat gejolak di pasar keuangan tersebut, rupee India anjlok 13% terhadap dolar AS dan rupiah Indonesia melemah hingga lebih dari 10%.

Inflasi yang rendah mungkin dapat mengurangi tekanan bagi para pembuat kebijakan untuk menaikkan suku bunga di Indonesia—inflasi tumbuh 3,16% pada Oktober setelah menguat dalam laju lambat selama dua tahun terakhir pada September—Bank Indonesia tetap berjanji untuk melanjutkan upaya menstabilkan rupiah.

Sebagian besar ekonom yang disurvei Bloomberg juga melihat BI akan menaikkan suku bunga hingga tahun depan karena para pembuat kebijakan masih fokus di mata uang.

Sementara itu, Bank Sentral India (RBI) telah mengejutkan pasar dengan tidak menaikkan suku bunga pada awal Oktober, setelah pengetatan signifikan di dalam kondisi pasar keuangan mendorong bank sentral menaikkan suku bunga pada Juni dan Agustus.

Hal itu pun menjadi risiko bagi pertumbuhan India, seiring dengan naiknya harga minyak dan melemahnya pertumbuhan ekonomi global. Risiko-risiko tersebut diperkirakan dapat menahan laju ekspansi domestik India dalam beberapa kuartal ke depan. 

Sumber : Bloomberg

Tag : bank sentral, kebijakan moneter
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top