DPR Dorong Partisipasi Politik Perempuan di Sidang di Turki

Delegasi DPR RI menghadiri Sidang Komisi Sosial dan Budaya Asian Parliamentary Assembly (APA) di Izmir, Turki, 4-6 Oktober 2018. Delegasi dipimpin Rofi’ Munawar dengan anggota Dwie Aroem Hadiatie dan Achmad Farial.
Edi Suwiknyo | 06 Oktober 2018 15:19 WIB
Anggota DPR mengikuti Rapat Paripurna ke-30 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (12/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Delegasi DPR RI menghadiri Sidang Komisi Sosial dan Budaya Asian Parliamentary Assembly (APA) di Izmir, Turki, 4-6 Oktober 2018. Delegasi dipimpin Rofi’ Munawar dengan anggota Dwie Aroem Hadiatie dan Achmad Farial. 

Dwie Aroem, anggota Delegasi DPR pada sesi Women Parliamentarians Meeting menyampaikan pandangan ihwal peran perempuan yang masih harus terus ditingkatkan. “Saya ingatkan di forum bahwa hampir separuh populasi dunia adalah perempuan. Namun partisipasi publik perempuan belum sepenuhnya sesuai harapan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu(6/10/2018).

Lebih lanjut politisi yang juga anggota Komisi 6 DPR RI itu mengakui bahwa pelbagai upaya dan cara telah dikerahkan untuk pemberdayaan perempuan. “Betul, mulai dari level global, regional, dan nasional telah banyak kebijakan dibuat untuk pemberdayaan perempuan. Tapi saya ingatkan bahwa partisipasi politik perempuan adalah kunci,” tegas dia. 

Namun demikian, sambung dia, meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik bukan hal mudah. Perlu political will yang sangat kuat dari semua elemen terkait untuk menjamin peningkatan partisipasi perempuan dalam politik.

Pada sisi lain politisi Golkar itu membeberkan akses finansial perempuan sebagai salah satu penghambat pemberdayaan perempuan dalam bidang politik. “Masalahnya sekarang kita dihadapkan pada realitas biaya politik yang sangat mahal. Tentu situasi itu tidak kondusif bagi perempuan. Kita harus membuka akses seluas-luasnya bagi perempuan untuk memberdayakan diri secara ekonomi,” usul legislator asal Lampung itu. 

Di akhir paparannya di forum itu disampaikan hal yang paling fundamental terkait pemberdayaan perempuan. “Hal paling penting dalam pemberdayaan perempuan adalah mengubah persepsi umum bahwa perempuan adalah di bawah atau subordinat laki-laki. Parlemen diharapkan berperan mengubah persepsi keliru itu,” pungkasnya

Tag : perempuan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top