Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perkara Lintas Batas, Dua Korea Sepakat Gelar KTT di Pyongyang

Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan sepakat untuk menggelar pertemuan terakhir Konferensi Tingkat Tinggi dengan Korea Utara menyelesaikan persoalan lintas perbatasan di Pyongyang pada Septermber 2018.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 13 Agustus 2018  |  17:32 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bergandengan tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat pertemuan di desa gencatan senjata Panmunjom, Korea Selatan, Jumat (27/4/2018). - Reuters
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bergandengan tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat pertemuan di desa gencatan senjata Panmunjom, Korea Selatan, Jumat (27/4/2018). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan sepakat untuk menggelar pertemuan terakhir Konferensi Tingkat Tinggi dengan Korea Utara menyelesaikan persoalan lintas perbatasan di Pyongyang pada Septermber 2018.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bertemu pada bulan April dan Mei di desa Panmunjom, dalam zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua Korea. Kedua pemimpin negara itu sepakat bahwa KTT berikutnya dilaksanakan pada musim gugur akan diadakan di ibukota Korea Utara.

Dilansir Reuters, kedua Korea mengadakan pembicaraan baru di DMZ pada hari Senin (13/8/2018) untuk membahas KTT ketiga, yang dipimpin oleh Menteri Unifikasi Selatan Cho Myoung-gyon dan Ketua Komite Reunifikasi Korea Utara Ri Son-gwon.

Ri mengatakan kedua pihak menyetujui rincian spesifik, termasuk tanggal untuk KTT, tetapi menolak untuk menguraikannya. Dia mengatakan penting untuk menghapus segala persoalan yang mencegah hubungan baik antar-Korea berjalan seperti yang direncanakan.

"Jika masalah yang diangkat pada pembicaraan tidak terselesaikan, masalah yang tidak terduga bisa muncul dan masalah yang sudah ada di jadwal mungkin menghadapi kesulitan," kata Ri, Senin (13/8/2018) dilansir Reuters.

Cho juga menolak menyebutkan masalah yang diajukan oleh Ri. Akan tetapi dia mengaku ada pembicaraan tentang masalah kemanusiaan dan cara-cara untuk meningkatkan hubungan antar-Korea.

Dia mengatakan, KTT berikutnya di Pyongyang akan membantu meningkatkan hubungan lintas batas dengan memungkinkan dua pemimpin untuk membahas denuklirisasi Korea Utara dan bagaimana membangun perdamaian di semenanjung Korea.

Kim Jong-un telah mengadakan sejumlah pertemuan diplomatik dengan para pemimpin Korea Selatan, Cina, dan Amerika Serikat tahun ini. Moon juga satu-satunya pemimpin Korea Selatan yang telah bertemu pemimpin Korea Utara dua kali, akan menjadi pemimpin pertama yang mengunjungi Pyongyang tahun ini.

Korea Utara telah mendapat sanksi keras atas pengejaran senjata nuklir dan rudal balistik, tetapi Presiden Kim dan AS Donald Trump setuju pada pertemuan puncak mereka di Singapura pada Juni 2018 untuk melakukan denuklirisasi di semenanjung Korea.

Di sisi lain, Korea Utara telah mengecam upaya yang dipimpin AS untuk mempertahankan sanksi Pyongyang sudah berniat baik dengan menghentikan uji persenjataan dan mengembalikan sisa-sisa pasukan AS yang tewas dalam Perang Korea 1950-1953.

Para pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Korea Utara belum menyetujui garis waktu untuk menghilangkan persenjataan nuklirnya atau untuk mengungkapkan ukurannya, yang perkiraan AS telah menempatkan antara 30 dan 60 hulu ledak.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea konflik korea

Sumber : Reuters

Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top