Bank Sentral Eropa Optimistis Naikkan Suku Bunga Tahun Depan

Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menyambut baik tercapainya kesepakatan di dalam pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker terkait masalah perdagangan.
Dwi Nicken Tari | 27 Juli 2018 14:40 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA — Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menyambut baik tercapainya kesepakatan di dalam pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker terkait masalah perdagangan.

Dia mengungkapkan, kesepakatan tersebut berhasil memuluskan jalan ECB  untuk terus bergerak menuju pengetatan kebijakan moneter secara gradual.

“[Kesepakatan] itu menunjukkan ada keinginan untuk berdiskusi terkait isu perdagangan dengan bingkai kerja multilateral. Jika tidak, kami akan kesulitan untuk melangkah karena kami tidak mengetahui substansinya,” ujar Draghi di dalam konferensi pers setelah RDG ECB, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (27/7/2018).

Namun demikian, Draghi menambahkan, kekhawatiran terhadap ketidakpastian perdagangan global masih ada kendati risikonya terhadap ekspansi ekonomi Zona Euro telah lebih seimbang.

Adapun di dalam rapat kebijakan tersebut, ECB mengumumkan, program pembelian obligasi akan tetap dihentikan pada akhir tahun ini dan ekspansi ekonomi Zona Euro diperkirakan tetap solid.

Institusi moneter yang berbasis di Frankfurt tersebut menegaskan kembali bahwa pembelian obligasi sebesar 30 miliar euro (US$35 miliar) tetap akan dilakukan hingga akhir September. Pada Oktober, jumlahnya akan dikurangi menjadi US$15 miliar euro sebelum akhirnya dihentikan pada akhir tahun.

Selanjutnya, sesuai dengan keputusan pada rapat kebijaan Juni, suku bunga ECB di level nol persen untuk pertama kalinya baru dapat dinaikkan setelah musim panas tahun depan. Adapun Draghi masih belum ingin menyatakan bahwa misinya tercapai karena ketidakpastian di sekitar outlook inflasi masih ada.

Oleh karena itu, ECB tetap membuka peluang untuk menambah stimulus jika kondisi ekonomi Zona Euro memburuk secara signifikan. Draghi pun mengungkapkan, saat ini tidak banyak yang dapat disampaikan. Dia tidak menjelaskan langkah bank sentral selanjutnya untuk melakukan investasi ulang utang jatuh tempo.

Selain itu, Draghi juga merespons tuduhan Trump sebelumnya, yang menuding Uni Eropa telah memanipulasi nilai tukar mata uang untuk mendapatkan keuntungan di dalam perdagangan.

Draghi menjelaskan, bank sentral memiliki konsensus internasional yang ditaati selama bertahun-tahun, mengenai perpantangan melakukan kompetisi devaluasi mata uang.

“Kami telah mengatakan berulang kali bahwa tingkat nilai tukar bukanlah target kebijakan kami. Kebetulan jika melihat niiai tukar nominal euro dari seluruh negara mitra dagang, euro telah terapresiasi ketimbang tahun lalu, selama satu setengah tahun,” ujar Draghi.

Adapun ekonom menilai, ECB dapat lega karena menurunnya tensi dagang antara AS dan UE, sehingga bank sentral tetap berpeluang menaikkan suku bunga pertama setidaknya pada September 2019.

“Draghi tampaknya lega dengan implikasi perang dagang, dan kini bersemangat untuk merundingkan masalah dinamisme upah dan tekanan harga domestik,” ujar Piet Christiansen, ekonom di Danske Bank.

Tag : bank sentral eropa
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top