Erudio School of Art, Sekolah Seni yang Demokratis

Tidak banyak remaja Indonesia yang berani menekuni seni sejak dini dengan serius dan bukan sekadar hobi. Padahal, sudah ada sekolah yang mengutamakan pendidikan seni kepada para siswanya.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 28 Juni 2018 13:47 WIB
Pendiri ESoA Monika Irayati Irsan dalam acara Kenduri Lulus Batch 3, Pameran Basa-Basi, di Goethe-Institut, Menteng, Jakarta, Rabu (27/6). - Bisnis/Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh

Bisnis.com, JAKARTA – Tidak banyak remaja Indonesia yang berani menekuni seni sejak dini dengan serius dan bukan sekadar hobi.

Padahal, sudah ada sekolah yang mengutamakan pendidikan seni kepada para siswanya. Salah satunya, Erudio School of Art (ESoA).

Sekolah setingkat SMA ini berdiri pada 2013 dan sekarang sudah meluluskan angkatan ketiga. 

Seroja Wibisono, salah satu murid ESoA, mengungkapkan sebenarnya dia tidak berniat sekolah di sana.

“Awalnya, adik saya yang mau masuk ESoA. Tetapi, akhirnya saya nyemplung di sini dan ternyata sekolah di sini membuat saya sadar bahwa saya suka seni,” ujarnya kepada Bisnis, saat ditemui pada acara Kenduri Lulus Batch 3, Pameran Basa-Basi, di Goethe-Institut, Menteng, Jakarta, Rabu (27/6/2018).

Joja, panggilan akrabnya, mengatakan dia akan mengambil kuliah di jurusan Sejarah Seni dan sekarang sedang mencoba tes masuk di Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Joja juga berniat magang di museum seni, seperti Museum Angkut di Malang, Jawa Timur (Jatim). 

Wan Adam Aliff, murid ESoA lainnya yang juga akan lulus tahun ini, mengaku nyaman bersekolah di sana meski awalnya sempat bingung dengan sistem di sekolah ini. 

Maklum, di ESoA tidak ada kurikulum atau jurusan pasti. Di sini, para murid akan didampingi guru-guru berpengalaman yang disebut pembimbing untuk mengantarkan para murid mengerti bentuk seni yang mereka inginkan.

Pendiri ESoA Monika Irayati Irsan menerangkan pihaknya ingin membantu menumbuhkan kreativitas, semangat bereksplorasi, dan pencarian identitas diri dengan filosofi demokrasi.

“Kami percaya setiap anak memiliki hak yang sama dengan orang dewasa untuk memutuskan segala hal menyangkut minat mereka, terutama dalam proses belajar. Murid dan orang dewasa bisa bersama-sama menjadi sumber informasi,” jelasnya.

Para murid akan didekatkan dengan isu sosial yang ada dan mereka akan mencari solusinya dalam bentuk karya.

"Jadi, semua mata pelajaran akademik seperti Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan sebagainya diintegrasikan ke dalam karya mereka," jelas Kepala Sekolah ESoA Diajeng Indah Angelia Basuningtyas.

Para murid juga diajarkan nilai-nilai demokrasi dan tanggung jawab dengan diperkenankan untuk memilih belajar di dalam kelas atau di luar kelas.

"Ruang kelas yang disediakan itu untuk tempat mereka [murid] yang ingin produktif. Jadi, bagi murid yang memilih untuk belajar di luar, ketika ujian tengah semester dan ujian semester mereka serius ketika di dalam kelas," terang Monika.

Tag : pendidikan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top