Saatnya Belajar Menjadi Orang Tua

Seandainya menjadi orang tua adalah suatu profesi, maka itu merupakan profesi yang sulit untuk dipersiapkan. Tidak ada pendidikan formal atau pelajaran khusus yang mendidik seseorang menjadi orang tua yang baik.
Yoseph Pencawan | 29 Mei 2018 16:05 WIB
Keluarga. - molto.co.id

Pada saat menikah dan kemudian memiliki anak, pasangan suami istri belum tentu akan langsung cakap menjadi orang tua.

Seandainya menjadi orang tua adalah suatu profesi, maka itu merupakan profesi yang sulit untuk dipersiapkan. Tidak ada pendidikan formal atau pelajaran khusus yang mendidik seseorang menjadi orang tua yang baik.

“Untuk menjadi dokter, ada sekolahnya. Menjadi insinyur ada sekolahnya. Namun untuk menjadi orang tua, tidak ada sekolahnya,” tutur Nyi Mas Diane, Ketua Koordinator Bidang Pengembangan Sumber Daya Yayasan Bhakti Asdiraa.

Meski tanpa sekolah, menjadi orang tua toh sesuatu yang tak bisa dihindari ketika pasangan suami-istri sudah memutuskan punya anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu belajar bagaimana mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

Menurut Nyi Mas Diane, setidaknya ada tiga hal penting yang harus dilakukan orang tua kepada anak-anaknya sejak masih kecil. Pertama adalah membentuk fondasi yang kuat dengan mengisi pikiran anaknya dengan hal-hal positif mengenai keagamaan dan kebangsaan sebelum dia masuk ke sekolah.

Kasus kekerasan atau penyimpangan seksual oleh anak-anak yang semakin meningkat sebagian terjadi karena tidak ada perhatian dari orang tua. Anak laki-laki yang kurang diisi jiwanya oleh sang ayah, bisa kecanduan narkoba atau seks bebas. Begitu pun dengan anak perempuan, bisa menjadi urakan atau akhirnya menjadi korban perdagangan orang.

Penting bagi seorang ayah di era digital ini, rutin bercengkerama langsung dengan anak-anaknya di rumah. Meskipun teknologi bisa membantu mempererat hubungan, tapi keseimbangan lewat interaksi nyata sangatlah penting untuk membangun karakter anak.

Sementara itu, sang ibu idealnya mengutamakan anak dalam 5 tahun pertama dalam hidupnya. Periode ini penting untuk membangun fondasi bagi karakter anak sebelum ke tahap sekolah.

Lima tahun kedua, bisa dibilang anak milik gurunya. Lima tahun ketiga, anak milik temannya. Dan pada lima tahun keempat, anak sudah memiliki dunianya sendiri. Kemudian lima tahun kelima, atau seterusnya adalah kehidupan rumah tangga.

Jika dilihat periodisasinya, orang tua seakan tak punya waktu yang banyak untuk membentuk karakter anak. Pengaruh orang tua mulai menurun seiring masuknya pengaruh dari dunia luar.

Menurut Nyi Mas, bila orang tua memberikan fondasi yang kuat pada 5 tahun pertama anaknya, sekuat apapun pengaruh negatif dari luar, mereka masih bisa menarik anak kembali, apalagi dengan fondasi agama yang kuat. “Hadirkan Tuhan dalam rumah Anda. Ini yang sering kurang dilakukan di dalam keluarga. Menghadirkan Tuhan di tengah keluarga.”

Kedua adalah peliharalah kedekatan dengan anak dan pasangan lewat perilaku kasih sayang dan ungkapan cinta. “Seberapa seringkah Anda sebagai orang tua memeluk anak? Terbayangkan kah Anda bila pagi tadi adalah pelukan terakhir Anda?”

 

Hormon Bahagia

Setiap hari peluklah mereka meski hanya 20 detik. Bukan hanya kepada anak, tetapi juga kepada istri atau suami. Dengan memeluk, kata Nyi Mas, tubuh akan mengeluarkan hormon eksitosin. Hormon ini adalah hormon bahagia.

Setelah dipeluk anak akan merasa bahagia. Anak yang bahagia akan mencapai kesuksesan.

Kemudian, katakanlah ungkapan cinta kepada Anak maupun suami atau istri. Apapun responnya, biasakanlah katakan itu kepada mereka. Bila Anda sedang berada di kejauhan dan tidak bisa memeluknya, katakanlah hal itu melalui pesan singkat atau media sosial.

Ketiga adalah memperhatikan penggunaan gawai atau gadget oleh anak. Seringkali, pada saat memberikan gawai, orang tua tidak mengerti sisi negatifnya.

Sebelum memberikan gawai, orang tua terlebih dahulu harus memberikan pemahaman sisi positif dan negatif perangkat dan diiringi dengan penguatan keagamaan kepada anaknya.

Soal penggunaan gawai pada anak ini juga jadi perhatian Tanti Diniyanti, Psikiater di RSIA Kemang Medical Care. Menurutnya, saat memberikan gadget, saat itulah orang tua memberikan seluruh dunia kepada anaknya.

Orang tua harus mencari informasi sebanyak mungkin mengenai penggunaan gawai, jangan merasa seolah sudah mengetahui semuanya. “[Inilah] mengapa sekarang ini anak lebih suka main game ketimbang bermain bersama orang tuanya,” ujar Tanti.

Orang tua jangan mengambil jalan pintas memberikan gawai ke anak hanya karena tak ingin direpotkan dengan tingkah laku mereka. Awalnya mungkin anak kelihatan lebih tenang dan cerdas memainkan game. Namun, setelah mereka berkumpul dengan teman-temannya dan bergabung dengan komunitas yang salah, maka membuka peluang terjadi persoalan yang lebih besar.

Menurutnya, penggunaan gawai bisa ditekan dengan aktivitas membaca buku. Rasio kemampuan membaca anak di Indonesia saat ini adalah 1.000 : 1 atau dari 1.000 anak hanya 1 orang yang gemar membaca.

Bila malas membaca, kemampuan anak berpikir dan kritis atau menganalisis menjadi rendah. Membantu anak supaya gemar membaca dapat dilakukan dengan menyediakan bacaan di rumah.

“Anak-anak sebenarnya tidak butuh TV flat, tidak butuh smartphone atau kulkas tiga pintu. Orang tua sering melupakan ini sehingga sekarang banyak anak yang sudah kecanduan pornografi, kekerasan, penyimpangan seksual dan sebagainya.”

Tag : orang tua, keluarga
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top