Duta Besar RI untuk UEA: Informasi Harus Clean & Clear

Permasalahan yang masih kami hadapi adalah adanya kesulitan mendapatkan informasi dari Indonesia yang valid, clean and clear tentang proyek-proyek yang bisa kami tawarkan baik proyek dengan skala kecil, menengah atau besar. Jadi, lebih banyak kami tawarkan proyek-proyek BUMN, sedangkan non-BUMN masih sulit mendapatkan informasinya.
Fitri Sartina Dewi/Thomas Mola | 24 Mei 2018 13:29 WIB
Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA) Husin Bagis. - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Uni Emirat Arab atau UEA menjadi mintra strategis Indonesia dalam banyak hal mulai dari ekonomi, tenaga kerja, hingga pariwisata. BKPM mencatat investasi asal UEA senilai US$6,4 juta pada triwulan I/2018, tumbuh 107,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk mengenal lebih dalam hubungan diplomatik Indonesia dan UEA, Bisnis berkesempatan mewawancarai Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Husin Bagis. Berikut kutipannya.

Sebagai Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (UEA), apa visi Anda untuk memperkuat hubungan kedua negara?

Visi besar saya adalah untuk memperkuat hubungan kedua negara dengan mewujudkan peningkatan peran KBRI Abu Dhabi dalam hubungan bilateral pada berbagai bidang demi kemajuan rakyat bersama.

Adapun, misi kami yang pertama adalah meningkatkan nilai manfaat ekonomi melalui TTI . Kemudian, meningkatkan kapasitas KBRI yang andal, modern, dinamis dengan meningkatkan pelayanan dan perlindungan warga negara Indonesia dan badan hukum Indonesia serta diaspora. Misi selanjutnya ialah mewujudkan UAE sebagai strategic partnership Indonesia.

Ketika ditunjuk menjadi Duta Besar, adakah pesan khusus yang dititipkan Presiden maupun Menlu kepada Anda?

Ada beberapa pesan yang disampaikan, yaitu untuk lebih meningkatkan hubungan ekonomi dan memberikan pelayanan, serta perlindungan yang lebih baik dan prima kepada seluruh WNI.

Apa yang menjadi prioritas dan target Anda sebagai Duta Besar?

Program prioritas saya mengacu pada TTI. Artinya, meningkatnya investasi dan kunjungan wisata dari wisatawan UAE ke Indonesia. Selain itu saya, juga berupaya mendorong peningkatan ekspor Indonesia ke UAE.

Bagaimana strategi yang akan Anda lakukan untuk mendorong Ekspor ke UEA?

Alhamdulillah, saya termasuk pakar perdagangan karena sebelumnya, selama 14 tahun pekerjaaan utama saya mengurus peningkatan ekspor. Saya pernah menjadi Atase Perdagangan Kairo 1995--2001, Atase Perdagangan Tokyo 2003—2007 dan mantan Kepala Indonesian Trade Promotion Centre Dubai UEA 2007—2010.

Jadi, saya mengenal dekat dengan Dubai sebagai pusat perdagangan UEA, termasuk sebagian besar pengusaha di Dubai saya kenal.

Ada beberapa upaya yang saya lakukan. Pertama, menetapkan satu staf di KBRI menangani perdagangan yang melakukan promosi, mediasi, monitoring dan sebelumnya saya berikan standar operational procedure dan petunjuk bagaimana menangani dan meningkatkan ekspor.

Kedua, memberikan petunjuk dan mengarahkan kepala ITPC Dubai tentang cara-cara meningkatkan ekspor.

Ketiga, sejak awal kedatangan di Abu Dhabi, saya langsung menemui para importir besar produk Indonesia seperti perhiasan emas, CPO, tekstil dan produk tekstil , kertas, ban, suku cadang dll.

Dalam pertemuan tersebut, kami sampaikan bahwa kami siap membantu apabila ada masalah yang terkait dengan impor mereka sekaligus mengharapkan mereka bisa impor lebih dari Indonesia. Pertemuan-pertemuan dengan mereka terus berlanjut setiap bulan atau setiap 2 bulan, sehingga hubungan menjadi tetap baik dan hidup.

Bagaimana hasil dari pertemuan-pertemuan yang rutin dilakukan itu?

Nah, ini terkait dengan yang keempat, yaitu setiap tahun kami mengirimkan misi dagang dari UEA untuk mengikuti Trade Expo Indonesia . Kami bekerja sama dengan Chamber of Commerce and Industry setempat untuk menjaring calon buyer dari UEA pada pelaksanaan TEI setiap tahun. Selain itu, kami juga giat melaksanakan pertemuan dengan para pebisnis di UEA untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan perdagangan kedua negara.

Hasil identifikasi tersebut kami sampaikan kepada para stakeholders di Jakarta untuk memperoleh kebijakan yang komprehensif. Salah satu contohnya adalah pada saat produk makanan dan minuman kita terhambat sertifikasi halal, kami langsung mengupayakan MoU kerja sama bidang sertifikasi halal antara pemerintah RI dan UEA. Saat ini sudah final dan menunggu tanda tangan yang kami jadwalkan habis lebaran di Dubai.

Kelima, persoalan penting terkait dengan ekspor kita saat ini adalah semakin menurunnya daya saing produk Indonesia khususnya hasil industri. Inilah tantangan terbesar bagaimana dalam negeri bisa lebih meningkatkan daya saing ekspor kita .

Bagaimana gambaran perdagangan Indonesia dengan UEA sejauh ini?

Perlu diketahui bahwa data perdagangan 2017, tercatat ekspor Indonesia ke UEA sebesar US$1,6 miliar, sedangkan impor Indonesia dari UEA US$2,05 miliar terdiri dari oil and gas US$1,55 miliar dan non-oil and gas US$509 juta.

Adapun, 10 komoditas ekspor utama Indonesia 2017 ialah CPO US$220 juta, perhiasan emas US$183 juta, TPT US$152 juta, mobil US$126 juta, mineral US$57 juta, kertas US$43 juta, pipa besi dan baja US$32 juta, ban kendaraan US$31 juta, sabun US$31 juta dan bubur kayu US$26 juta.

Bagaimana menurut Anda hubungan diplomatik Indonesia dan UEA sejauh ini?

Berkembang baik dan hal ini dilihat dari berbagai permintaan dukungan untuk Indonesia di berbagai forum regional maupun multilateral. Ini termasuk pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap di Dewan Keamanan PBB. Alhamdulillah semua lancar. Dengan kata lain, untuk urusan politik tidak banyak menyita waktu bagi kami, karena selama ini berjalan baik dan harmonis.

Bagaimana Anda melihat peluang kerja sama ekonomi kedua negara?

Saya merasa dengan 2 tahun bertugas, alhamdulillah sekarang ternyata banyak peluang kerja sama ekonomi yang bisa dilakukan. Saat ini, banyak teman saya khususnya pengusaha atau investor lokal baik menengah maupun besar termasuk beberapa investor asing khususnya India. Para pengusaha UEA melihat Indonesia saat ini berbeda dibandingkan dengan waktu sebelumnya yakni negeri yang aman, tenteram, G20, penduduk muslim terbesar, kaya raya, dan demokratis.

Bagaimana dengan kemudahan investasi yang ingin masuk ke Indonesia?

Permasalahan yang masih kami hadapi adalah adanya kesulitan mendapatkan informasi dari Indonesia yang valid, clean and clear tentang proyek-proyek yang bisa kami tawarkan baik proyek dengan skala kecil, menengah atau besar. Jadi, lebih banyak kami tawarkan proyek-proyek BUMN, sedangkan non-BUMN masih sulit mendapatkan informasinya.

Bagaimana Anda melihat potensi hubungan Indonesia UEA ke depannya terkait investasi?

Saat ini, UEA banyak berinvestasi di Amerika dan Eropa Barat. Di Asean, mereka lebih banyak taruh dananya di Singapura dan dari Singapura diinvestasikan ke negara-negara Asean termasuk Indonesia. Melihat kondisi ini, kami setiap minggu atau bulan selalu melakukan pendekatan dengan para di UEA supaya mereka melakukan investasi langsung di Indonesia.

Alhamdulillah selama penugasan kami, beberapa proyek investasi yaitu Mubadala Petroleum , Masdar dengan PT PJB untuk proyek solar cell di Danau Cirata Jawa Barat sebesar 200 MW sudah tahap finalisasi agreement, Lulu Hypermarket di Cakung dan BSD dan setelah Lebaran menyusul satu lagi di Sentul.

Adapun, proyek yang sudah berjalan antara lain Mubadala untuk oil and gas di Selat Makasar, Dubai Islamic Bank dengan Panin Syariah Bank. Adapun, yang masih menjadi kendala adalah perpanjangan kerja sama antara Dubai Port World dan Pelindo III, yang saat ini dalam tahap negosiasi. Saat ini banyak yang tertarik di power plant yang berbahan bakar gas, juga oil and gas, termasuk sarana dan prasarana.

Bagaimana upaya perlindungan TKI dan upaya penanganan TKI yang bermasalah?

Untuk perlindungan TKI, kami all out. Artinya, kami memberikan yang terbaik bagi TKI kita. Istilah saya “ Jika ada TKI terdampar di Gunung Hud, insyaallah kami akan mencarinya.” Saat ini ada 102.000 WNI dan sekitar 90% adalah TKI. Dari data yang ada, kebanyakan masalah TKI adalah TKI yang datang setelah moratorium 2015.

Namun, kami tetap memberikan penanganan yang prima seperti mempercepat proses kepulangan, memberikan makanan yang layak, juga memberikan keterampilan seperti tata rias, kuliner, menjahit, dll. Saat ini ada 23 TKI bermasalah di penampungan kami dan akan segera dipulangkan dalam minggu-minggu ini.

Solusinya, Kemenaker perlu segera menandatangani MoU dengan UEA yang sudah hampir 6 bulan belum ada proses lebih lanjut. Aturan ketenagakerjaan di UEA mulai 2018 berubah total dan banyak mengacu pada ketentuan ILO dan tidak lagi mengizinkan sponsor perorangan melainkan perusahaan.

Adapun, perusahaan yang menjadi sponsor disebut Tadbeer, di-approve oleh Kemenaker UEA dan semuanya jelas serta transparan. Kami di KBRI mendukung percepatan adanya MoU kedua negara. Sebab, setiap hari ada 15 sampai 25 TKI tidak sesuai prosedur yang datang pada setiap penerbangan dan tentu akan menjadi masalah bagi KBRI.

Menurut Anda apa saja tantangan hubungan kedua negara?

Tantangannya adalah UEA tertarik investasi juga berwisata, tetapi Indonesia belum tahu banyak tentang culture mereka. Seperti investasi, mengapa UEA banyak investasi di negara-negara maju? Ini karena di sana mudah dan tidak bertele-tele. Jadi, mereka lebih suka proyek yang brownfield, yang sudah siap.

Untuk itu, saya usul kalau kita mau dapatkan investor untuk 10.000 MW atau jalan tol 1.000 km atau yang lainnnya, bagi saja ke negara-negara The Gulf Cooperation Council dan berikan penunjukan lansung tapi tetap sesuai ketentuan dan tanpa tender. Saya yakin mereka akan tertarik.

Di sektor wisata, seharusnya Kemenpar berikan porsi besar buat promosi di UEA sebab wisatawan UEA ke Thailand 2017 sekitar 150.000 orang, sedangkan ke Indonesia sekitar 10%-nya. Mereka banyak uang dan suka belanja dan berwisata keluarga.

Kami sudah promosikan Lombok misalnya, dari face to face, koran, tapi masih belum bisa bertambah banyak. Padahal 2017 kami targetkan 100.000 wisatawan. Bila Kemenpar buat kerja sama dengan 5 big travel agent di UEA, saya yakin lebih 100.000 orang akan ke Indonesia.

Bagaimana langkah Anda memperbaiki target investasi dan wisata itu?

Di sisi lain, selama mengemban tugas sebagai Duta Besar, kami telah mengatur pertemuan dan melobi beberapa pihak. Pertama, bilateral investment treaty (BIT), dengan melalui lobi dan pendekatan baik ke pihak-pihak di UEA termasuk di Jakarta, sudah final. Ini tinggal menunggu waktu penandatanganan HH Syech Muhammad Bin Zayed, Crown Prince Abu Dhabi, ke Jakarta. Bisa juga ketika Presiden Jokowi melakukan kunjungan tahun ini ke Abu Dhabi.

BIT dengan Abu Dhabi menjadi primadona karena semua BIT Indonesia dengan negara lain sejak lama dimoratorium. Namun, Abu Dhabi menjadi pemecah kebuntuan selama ini. Dengan adanya BIT, ini akan menjadi contoh untuk BIT Indonesia dengan negara-negara lainnya.

Kedua, Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda . Perjanjian ini sudah ada sejak lama tetapi ada beberapa yang pihak di UEA ini minta diamandemen. Pada pertemuan 18--19 April 2018 di Abu Dhabi, perundingan lancar dan kami targetkan perundingan berikutnya setelah lebaran di Jakarta akan tuntas.

Ketiga, MOU tentang sertifikat halal semoga dapat ditandatangani kedua pihak selesai Lebaran di Dubai. Kemudian, ada MoU lainnya pada bidang pendidikan, kebudayaan, dan agama serta tenaga kerja. Berbagai kerja sama tentu akan sangat bermakna bagi peningkatan hubungan ekonomi kedua negara.

Bagaimana strategi Anda untuk promosikan potensi pariwisata dan kebudayaan Indonesia?

Pariwisata akan lebih cepat berdampak bila dipromosikan secara all out, dan selama ini kami lakukan beberapa kegiatan. Pertama, promosi langsung ke semua yang setiap hari kami temui.

Di kartu nama kami ada logo “Indonesia a piece of heaven”, yang selama ini kami buat banyak untuk Lombok. Mengapa Lombok? Karena Lombok pernah dapat award sebagai the best halal destination dan the second best honeymoon destination. Untuk itu, branding yang sudah ada di kalangan masyarakat UEA akan lebih mudah untuk kami kembangkan dan promosikan.

Untuk kebudayaan, kami gunakan kemampuan masyarakat Indonesia yang ada di UEA beberapa kali tampil di Dubai, di wisma. Adapun di Museum Louvre, kami bekerja sama dengan DIY Yogyakarta, yang kegiatan berupa tarian daerah, angklung, gamelan.

Bagaimana Anda melihat citra Indonesia pada masyarakat UEA?

Alhamdulillah semakin hari semakin banyak yang kenal lebih dekat dengan Indonesia. Mereka juga semakin mengenal karena Islam di Indonesia mayoritas sunni.

Saya tahun lalu bahkan sebarkan 13 imam di di beberapa masjid di UEA dengan kontrak 2 tahun dan bisa diperpanjang. Tahun ini, Insyaallah 14 imam segera datang. Saya merasa terharu mampu melobi Majlis Awqaf UEA untuk melakukan seleksi imam di Indonesia setiap tahun.

Adakah kehawatiran saat diberikan amanat sebagai Dubes untuk UEA?

Alhamdulillah tidak ada kehawatiran. Tentu dengan beberapa alasan antara lain saya suka bergaul, juga bisa berkomunikasi dengan Bahasa Arab. Saya dan istri juga sudah mengenal banyak tentang UEA baik masyarakatnya, budayanya, maupun makanannya. Saya banyak sahabat yang sudah terbina sejak 2007 saat saya bertugas sebagai Kepala ITPC Dubai.

Di samping itu, saya berpengalaman banyak bagaimana melakukan lobi dan promosi sejak sebagai atase perdagangan di Kairo 1995--2001, Tokyo 2003--2007 dan Dubai 2007--2010. Saya me-running KBRI bagaikan sebuah perusahaan sedangkan saya sebagai CEO-nya.

Akibatnya, para home staff dari Kemlu/Kemenaker dan BKPM, harus bisa menyesuaikan dengan cara kerja saya atau dengan Bahasa Ibu Menlu , para Dubes harus out of the box bukan lagi business as usual. Alhamdulillah itu saya lakukan sejak bertugas di Abu Dhabi.

*) Artikel dimuat di koran Bisnis Indonesia edisi Kamis 24 Mei 2018

Tag : uea
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top