Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ismail Marzuki, Komponis Besar yang Pernah Dimiliki Bangsa

Lahir pada 11 Mei 1914 dan besar di Jakarta, komponis ini bernama Ismail dan ayahnya, Marzoeki, sehingga sebenarnya ia bernama lengkap Ismail bin Marzoeki. Namun bangsa ini lebih mengenalnya dengan nama Ismail Marzuki.
Yoseph Pencawan
Yoseph Pencawan - Bisnis.com 11 Mei 2018  |  23:17 WIB
Ismail Marzuki
Ismail Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Lahir pada 11 Mei 1914 dan besar di Jakarta, komponis ini bernama Ismail dan ayahnya, Marzoeki, sehingga sebenarnya ia bernama lengkap Ismail bin Marzoeki. Namun bangsa ini lebih mengenalnya dengan nama Ismail Marzuki.

Meski baru menginjak usia 17 tahun, Ismail sudah berhasil mengarang lagu berjudul "O Sarinah” ketika memulai debutnya di dunia musik pada 1931. Saat masa pendudukan Jepang, komponis yang mahir memainkan gitar, saxophone dan harmonium pompa ini turut aktif dalam orkes radio pada Hozo Kanri Keyku (Radio Militer Jepang) dan tetap meneruskan siaran musiknya di RRI setelah Jepang angkat kaki.

Namun ketika RRI kembali dikuasai Belanda pada 1947, Ismail tidak mau bekerja sama dengan Belanda dan memutuskan untuk keluar. Dia baru kembali bekerja di radio setelah RRI berhasil diambil alih Indonesia. Ismail kemudian mendapat kehormatan menjadi pemimpin Orkes Studio Jakarta dan ketika itulah menciptakan lagu Pemilihan Umum dan diperdengarkan pertama kali dalam Pemilu 1955.

Lagu ciptaan Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang menjadi lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru. Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada 1968 dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Dan pada tahun 2004 dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia.

Adapun lagu-lagu karya komponis yang meninggal pada 25 Mei 1958 ini a.l Aryati, Gugur Bunga, Melati di Tapal Batas (1947), Wanita, Rayuan Pulau Kelapa, Sepasang Mata Bola (1946), Bandung Selatan di Waktu Malam (1948), O Sarinah (1931), Keroncong Serenata dan Kasim Baba. Kemudian Hari Lebaran, Halo-Halo Bandung, Bandaneira, Lenggang Bandung, Sampul Surat, Karangan Bunga dari Selatan, Selamat Datang Pahlawan Muda (1949), Juwita Malam, Sabda Alam, Roselani, Rindu Lukisan serta Indonesia Pusaka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Komponis
Editor : Gajah Kusumo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top