KEPALA STAF KEPRESIDENAN, JENDERAL TNI (PURN) MOELDOKO: "Naluri Saya Sangat Tajam"

Bisnis.com, JAKARTA Kantor Staf Presiden menjadi perpanjangan telinga Kepala Negara untuk menyerap keinginan masyakarat. Selain itu, kantor ini juga mengelola isu-isu strategis nasional sehingga publik mendapatkan pemahaman yang tepat.nGuna mendapat gambaran bagaimana Kantor Staf Presiden menjalankan tugas dan mendukung keinginan pemerintah untuk meningkatkan investasi dan ekspor, Bisnis Indonesia berkesempatan mewawancarai Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Berikut Petikannya:
Gajah Kusomo, Stefanus Arief Setiaji, David Eka Issetiabudi, Yodie Hardiyan, & Thomas Mola | 13 April 2018 16:50 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat menerima kunjungan tim Bisnis Indonesia, di Kantor Staf Presiden Jakarta, Jumat (6/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Kantor Staf Presiden menjadi perpanjangan telinga Kepala Negara untuk menyerap keinginan masyakarat. Selain itu, kantor ini juga mengelola isu-isu strategis nasional sehingga publik mendapatkan pemahaman yang tepat. Guna mendapat gambaran bagaimana Kantor Staf Kepresidenan menjalankan tugas dan mendukung keinginan pemerintah untuk meningkatkan investasi dan ekspor, Bisnis Indonesia berkesempatan mewawancarai Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Berikut Petikannya:

 

Saat ini kondisi bangsa sering disebut makin gaduh. Bagaimana Anda melihat hal itu apakah masih dapat ditangani dengan baik?

Sebenarnya masih noisy. Biasalah dalam sebuah negara yang superdemokrasi itu, Presiden Jokowi mengatakan demokrasi kita kebablasan. Kalau menurut saya bukan kebablasan lagi tapi tanpa batas , dan berbicara itu sudah tingkatannya menyerang pribadi.

Namun, sebenarnya secara umum situasi bisa dikelola dengan baik. Kebetulan saya punya pengalaman lapangan yang cukup lama sehingga naluri saya mengenali situasi cukup tajam.

Contoh waktu pertama kali penyerangan terhadap tempat ibadah di Sumatra, tempat ibadah Konghucu, saya teriak keras. Hati-hati karena saya melihat ini enggak biasa.

Tempat ibadah yang sering dirusak itu justru tempat ibadah orang Muslim, yang rusak orang Muslim sendiri. Buktinya itu Ahmadiyah tapi kalau merusak gereja jarang sekali, apalagi merusak tempat ibadah Konghucu, makanya ini agak lain, hati-hati.

Setelah itu, apakah kejadiannya benar-benar beruntun?

Waktu itu saya baru pensiun. Ternyata betul, itu kemudian memicu kejadian beruntun. Jadi memang model serta polanya seperti itu dan biasaya dimainkan di luar Jakarta. Kalau situasi sekarang, saya selalu mengatakan pada setiap kunjungan para duta besar negara sahabat, baik dari Eropa, Amerika, maupun lainnya, saya sampaikan.

Sewaktu saya menjdi panglima TNI, kalimat yang pertama kali saya ucapkan adalah—mungkin tidak wajar dalam lingkungan militer tapi saya katakan—para investor jangan takut, jangan ragu-ragu masuk ke Indonesia, kami akan mengawalnya.

Sekarang saya pada posisi yang memiliki akses untuk menggunakan instrumen keamanan yang semakin luas, makin besar. Oleh karena itu saya katakan, tentunya akan semakin mudah untuk bisa mengendalikan situasi ekonomi kalau terjadi apa-apa.

Yakinlah kepada saya bahwa saya sekian lama tidur di jalanan, naluri saya terhadap situasi sangat tajam. Saya katakan kepada beberapa visitor, stabilitas terkendali dengan baik, baik itu stabilitas keamanan, politik, ekonomi, semuanya berjalan on the track. Dengan demikian, keinginan Presiden mendatangkan investasi dari luar itu betul-betul saya bisa memberikan jaminan informasi yang benar, sehingga mereka tidak ragu-ragu.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : moeldoko, POLICY TALK
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top