Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Militer Turki Akan Mundur dari Perbatasan Suriah

Militer Turki akan mundur dari kawasan Afrin di perbatasan Suriah, menyerahkannya kepada "pemilik sebenarnya", setelah wilayah itu dibersihkan dari "teroris-teroris".
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  07:40 WIB
Pejuang Angkatan Darat Suriah yang didukung Turki menurunkan gambar Pemimpin Kurdistan Workers Party (PKK) Abdullah Ocalan di Desa Kafr Jana di utara Afrin, Suriah, 7 Maret 2018. - Reuters
Pejuang Angkatan Darat Suriah yang didukung Turki menurunkan gambar Pemimpin Kurdistan Workers Party (PKK) Abdullah Ocalan di Desa Kafr Jana di utara Afrin, Suriah, 7 Maret 2018. - Reuters

Kabar24.com, ANKARA -Turki menyatakan akan menarik pasukannya yang saat ini berada di wilayah perbatasan Suriah.

Militer Turki akan mundur dari kawasan Afrin di perbatasan Suriah, menyerahkannya kepada "pemilik sebenarnya", setelah wilayah itu dibersihkan dari "teroris-teroris", kata pihak Turki, Senin (26/3/2018).

Turki dan para sekutunya yang merupakan pemberontak Suriah masuk ke ibu kota regional yang juga disebut Afrin pada Ahad, mengibarkan bendera-bendera di pusat kota dan menyatakan kendali penuh setelah operasi delapan pekan terhadap milisi YPG Kurdi.

"Kami tidak akan tetap di sana (di Afrin) dan kami tentu saja bukan pelaku pendudukan. Tujuan kami ialah menyerahkan kawasan itu kembali kepada pemilik sebenarnya setelah membersihkannya dari para teroris," kata Bekir Bozdag, deputi perdana menteri, kepada wartawan.

Pertempuran untuk menguasai Afrin, wilayah yang pernah damai di bagian baratlaut Suriah, telah membuka front baru dalam perang saudara yang beragam latar belakang etnis di negara itu. Hal itu juga memperlihatkan peran besar yang pernah dimiliki kekuatan-kekuatan asing seperti Turki.

Lebih 150.000 orang telah meninggalkan Afrin dalam beberapa hari, kata Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia.

Bozdag mengatakan penguasaan kota Afrin itu sebagai bagian dari Operation Olive Branch dan berhasil mengurangi ancaman-ancaman secara signifikan terhadap perbatasan-perbatasannya.

Ini merupakan operasi lintas batas kedua Turki ke Suriah dalam perang saudara yang berlangsung tujuh tahun di negara itu.

Operasi pertama yang diberi nama Euphrates Shield, menyasar apa yang Ankara sebut sebagai sebuah "koridor teror" yang dibentuk ISIS dan para pejuang Kurdi ke sebelah timur dari Afrin di sepanjang garis depan bagian selatannya dengan Suriah.

Euphrate Shield rampung pada awal 2017, Turki kemudian membentuk sistem-sistem pemerintahan lokal di wilayah-wilayah yang dikuasai, membentang dari kawasan sekitar Azaz - yang terletak di sebelah timurlaut Afrin - ke Sungai Euphrate dan dilindungi oleh pasukan Turki yang berada di sana.

Bozdag menyatakan Turki sekarang bertujuan membentuk sistem-sistem pemerintahan serupa di kawasan Afrin, tanpa memberikan penjelasan lebih jauh.

Kampanye Turki di Afrin telah mengundang kecaman Barat, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, yang telah memasok senjata dan pelatihan kepada YPG. Barat takut masuknya Turki dapat melemahkan aksi internasional terhadap para pejuang ISIS di Suriah.

Ankara memandang YPG sebagai perpanjangan kelompok militan PKK yang telah melancarkan pemberontakan di bagian tenggara Turki selama beberapa dekade. Turki sangat marah terhadap dukungan yang diberikan Barat kepada para pejuang Kurdi Suriah.

Bozdag menyatakan Turki telah mengumpulkan "sebagian besar" senjata yang diberikan kepada para pejuang Kurdi oleh AS setelah YPG meeninggalkan senjata ketika mereka meninggalkan kota itu.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suriah turki

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top