Tuntut Pengendalian Senjata Api, Belasan Siswa Berbaring di Depan Gedung Putih

Belasan siswa SMA berbaring di depan Gedung Putih pada Senin (19/2/2018) bersama dengan ratusan pengunjuk rasa lainnya untuk mengakhiri kekerasan dengan senjata api.
Aprianto Cahyo Nugroho | 20 Februari 2018 09:56 WIB
Gedung Putih di Washington DC, AS - Reuters/Jason Reed

Kabar24.com, JAKARTA – Belasan siswa SMA berbaring di depan Gedung Putih pada Senin (19/2/2018) bersama dengan ratusan pengunjuk rasa lainnya untuk mengakhiri kekerasan dengan senjata api.

Dilansir Washington Post, para siswa berbaring selama tiga menit, sama dengan durasi waktu dalam penembakan di Marjory Stoneman Douglas High School, Florida, yang menewaskan belasan korban, serta waktu yang dibutuhkan untuk membeli sebuah senjata api.

Unjuk rasa di Washington D.C. tersebut merupakan aksi lanjutan yang dilakukan oleh remaja di Parkland, Florida, untuk dukungan kuat terhadap pengetatan kontrol senjata menyusul salah satu penembakan massal terburuk di sebuah sekolah dalam sejarah AS tersebut.

"Ini bisa menjadi titik tolak. Kami masih baru berusia 16 tahun, tapi setidaknya kami sudah cukup dewasa agar suara kami didengar," kata Whitney Bowen, seorang penyelenggara unjuk rasa di Washington, seperti dikutip Washington Post.

Bowen, seorang pelajar di Potomac School di McLean, Virginia, berada di sekolah saat dia menerima peringatan berita tentang penembakan di Florida. Dia dan teman-temannya mengetahui rincian tragedi tersebut melalui media sosial.

Kemudian, terinspirasi dari wawancara dengan siswa Douglas di Twitter dan Facebook, Bowen dan temannya, Eleanor Nuechterlein, menciptakan sebuah grup Facebook bernama Teens for Gun Reform (Remaja untuk Reformasi Senjata Api) dan undangan Facebook event untuk mempromosikan aksi berbaring. Berita event tersebut menyebar dengan cepat secara online, dengan lebih dari 700 orang dari seluruh wilayah menyatakan minatnya.

"Kami belum berusia 18 tahun, jadi kami tidak bisa memilih, tapi kami memiliki keuntungan tinggal di Washington dan sebagai remaja yang memiliki akses ke media sosial," kata Bowen. "Saya tidak ingin dikenal sebagai anggota generasi penembakan massal. Ini sangat mengerikan dan sangat menghancurkan dan ini bukan warisan yang ingin saya tinggalkan."

Para demonstran yang juga terdiri dari orang dewasa dan pelajar bergabung dengan sekelompok aktivis yang telah berdemonstrasi di luar Gedung Putih setiap hari Senin sejak penembakan di Aurora, Colorado, pada tahun 2012, saat 12 orang terbunuh di sebuah bioskop.

Selama dua jam setiap minggu, aktivis tersebut berbicara dengan orang yang lewat tentang perubahan undang-undang senjata, termasuk melembagakan pemeriksaan latar belakang universal dan menciptakan zona sekolah bebas senjata.

Linda Finkel-Talvadkar, 66 tahun, anggota asli kelompok tersebut, mengatakan bahwa gairah para remaja tersebut mencerminkan adanya siswa pada masa remajanya yang turun ke jalan menuntut berakhirnya Perang Vietnam.

"Itu menghasilkan perubahan kebijakan dan presiden tidak berjalan lagi, jadi pasti orang muda ini punya kekuatan untuk menciptakan perubahan yang ingin kita lihat. Mereka adalah masa depan kita, dan harapan kita terletak pada mereka," ungkap Linda.

Setelah tiga menit berlalu, sejumlah orang muda dan orang dewasa bergabung dengan 17 pelajar tersebut untuk berbaring dengan tangan bersilang di jalan basah di luar Gedung Putih selama hampir 20 menit. 

Tag : senjata api
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top