UNESCO Akui Phinisi Sebagai Warisan Dunia Asal Indonesia

Seni pembuatan kapal Phinisi resmi dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda asal Indonesia oleh UNESCO.
Irene Agustine | 10 Desember 2017 23:30 WIB
Phinisi - boatbuildingindonesia.com

Bisnis.com,JAKARTA - Seni pembuatan kapal Phinisi resmi dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda asal Indonesia oleh UNESCO.

Dalam sidang penetapan warisan dunia ke-12 yang berlangsung di Pulau Jeju, Korea Selatan tersebut, budaya kapal Phinisi diakui menjadi bagian seni berlayar wilayah kepulauan yang tak ternilai. Seni pembuatan kapal asal Sulawesi Selatan dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda atau Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO.

Phinisi merupakan salah satu dari 33 warisan tak benda dunia lainnya yang masuk dalam daftar UNESCO kali ini. Sejumlah warisan dunia lainnya yang ditetapkan yakni musik Khaen dari Laos, karnaval Basel dari Swiss, seni tari dan musik Zaouli dari Pantai Gading, dan teknik memasak Pizzaiuolo dari Italia.

Dengan terpilihnya Phinisi, maka Indonesia memiliki delapan budaya yang masuk dalam daftar UNESCO sejauh ini. Warisan lainnya yang lebih dahulu ditetapkan yaitu wayang, keris, batik, angklung, Tari Saman, Noken Papua, Tiga tari Bali, dan program pendidikan batik di Museum Batik Pekalongan.

Dikutip dari keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, Minggu (10/12/2017) Duta Besar RI untuk Prancis, Monaco dan Andora sekaligus Wakil Tetap RI di UNESCO
Hotmangaradja Pandjaitan mengatakan  komunitas dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengusulan Phinisi ke dalam daftar ICH UNESCO.

Dia mengatakan hal ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas untuk memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan Warisan Budaya Takbenda yang ada di wilayahnya masing-masing, utamanya bagi pengembangan pengetahuan, teknik dan seni warisan budaya tak benda lainnya.

Sebagai informasi, pembuatan perahu Phinisi masih bisa ditemui di beberapa wilayah Sulawesi Selatan, yaitu di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba.

Rangkaian proses pembuatan Phinisi merefleksikan nilai sosial dan budaya kehidupan sehari-hari, yaitu kerja bersama, bekerja keras, keindahan, serta penghargaan terhadap lingkungan alam. Teknik pembuatan kapal pinisi juga sangat memperhatikan ketelitian dari sisi teknik dan navigasi.

Tag : unesco
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top