Rapat Pleno Golkar Dinamis, Bahas Munaslub & Setya Novanto

Sarmuji, Wakil Sekjen Golkar mengatakan rapat tersebut berlangsung sangat terbuka dan dinamis. Ada sebanyak 35 orang yang mengemukakan pendapat dengan kecenderungan berbeda-beda.
Kurniawan A. Wicaksono | 25 November 2017 10:15 WIB
Mantan presiden BJ Habibie (tengah) didampingi Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (kiri), Wakil Ketua Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar Akbar Tanjung (kedua kanan) dan Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (kanan) memegang poster sebelum membuka Seminar Nasional Fraksi Partai Golongan Karya MPR di Jakarta, Kamis (19/10). - ANTARA/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA -- Rapat Pleno Partai Golkar yang berlangsung pada Selasa (21/11/2017) diakui sangat dinamis, beda dari biasanya.

Sarmuji, Wakil Sekjen Golkar mengatakan rapat tersebut berlangsung sangat terbuka dan dinamis. Ada sebanyak 35 orang yang mengemukakan pendapat dengan kecenderungan berbeda-beda.

"Nyaris tidak ada rapat pleno atau rapat lain dengan 35 orang berbicara dalam perspektif yang berbeda," ujarnya dalam sebuah diskusi publik bertajuk 'Beringin Diterpa Angin', Sabtu (25/11/2017).

Beberapa perspektif yang diungkap secara transparan a.l. terkait pelaksanaan musyawarah nasional luar biasa (munaslub), tidak perlu digantinya Setya Novanto dari posisi Ketua Umum, hingga penunjukkan pelaksana tugas (Plt).

Dalam catatan Bisnis, dalam rapat pleno tersebut, Partai Golkar memastikan tidak akan mengutak-atik posisi Setya Novanto sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat karena ada proses praperadilan.

Selain itu, ada penunjukan Sekretaris Jenderal Idrus Marham sebagai Plt. Ketua Umum Golkar. Dia mengemban posisi itu hingga keluarnya putusan praperadilan atas Novanto.

Sarmuji berujar kesepakatan yang diambil dalam pleno tersebut merupakan langkah maksimal. Pihaknya mengakui memang kesepakatan itu tidak akan melegakan semua pihak. Namun, setidaknya sudah bisa menjadi jalan tengah.

"Ada pula yang menggebrak meja, tapi semua terkontrol. Ini karena semua memahami bahwa kita sebagai bagian dari keluarga besar. Tidak ada kecurugaan apapun ketika seseorang mengemukakan pendapat," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
partai golkar

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top