Rusia Kembali Veto Resolusi PBB Soal Suriah

Rusia memveto resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk memperluas upaya bagi tim penyelidik terkait serangan senjata kimia di Suriah yang telah menewaskan lebih dari 80 orang.
Renat Sofie Andriani | 17 November 2017 07:46 WIB
Anak-anak pengungsi Suriah di penampungan Turki - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Rusia memveto resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk memperluas upaya bagi tim penyelidik terkait serangan senjata kimia di Suriah yang telah menewaskan lebih dari 80 orang.

Untuk yang kesepuluh kalinya, Rusia menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB demi membela sekutunya, Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang saudara enam tahun yang menewaskan lebih dari setengah juta warga Suriah.

Sikap keras Trump terhadap rezim Assad pun memberi potensi perselisihan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Padahal pada saat yang sama Trump berupaya menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia di tengah berlanjutnya penyelidikan terkait campur tangan Kremlin dalam kampanye kepresidenannya tahun 2016.

“Butuh semua dukungan anggota Dewan Keamanan PBB memilih memperbarui mekanisme Investigasi Bersama untuk Suriah, guna memastikan bahwa rezim Assad tidak kembali melakukan pembunuhan massal dengan senjata kimia,” tulis Trump dalam akun Twitternya, beberapa jam sebelum pemungutan suara pada hari Kamis (16/11) waktu setempat.

Resolusi AS mendapatkan dukungan 11 suara dari 15 anggota DK PBB. Sementara itu, China dan Mesir memilih abstain, sedangkan Bolivia bergabung dengan Rusia menjadi oposisi.

Rusia mencabut resolusinya untuk menolak temuan panel setelah kehilangan suara prosedural. Bolivia kemudian mengajukannya kembali pada akhir sesi hari itu, yang memancing kegeraman delegasi AS. Namun resolusi yang disokong Rusia dikalahkan dengan hanya empat suara yang mendukung.

Dalam laporannya pada bulan Oktober, panel investigasi PBB menyalahkan pasukan udara Assad atas serangan gas kimia pada tanggal 4 April di sebuah desa yang dikuasai pemberontak. Sejumlah warga dilaporkan tewas sedangkan ratusan lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Serangan tersebut memicu kemarahan dunia internasional seiring dengan menyebarnya foto anak-anak yang terlihat sekarat. Hal ini pun mendorong Trump mengerahkan kekuatan militernya ke Suriah beberapa hari kemudian.

Trump memerintahkan serangan rudal yang ditujukan pada pesawat, amunisi, stasiun bahan bakar, dan sistem pertahanan udara di lapangan udara Suriah.

“Kami merevisi resolusi kami tiga kali untuk memahami kekhawatiran Rusia, sedangkan Rusia tidak melakukan pembahasan mengenai resolusi mereka,” ujar Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, pada Kamis dalam rapat DK PBB.

Menurut Haley, AS memberi rezim Assad 'peringatan yang jelas' bahwa mereka akan kembali mengambil tindakan militer jika Suriah melancarkan serangan kimia lebih lanjut.

“AS tidak menerima penggunaan senjata kimia Suriah,” tegas Haley, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/11/2017).

Di sisi lain, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menyebut laporan investigasi tersebut sangat cacat dan tercoreng oleh tekanan politik Barat untuk memfitnah pemerintah Suriah.

Menurut Nebenzia, negara-negara Barat telah menggunakan laporan serupa untuk membenarkan invasi Irak 2003 dan intervensi militer 2011 di Libya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suriah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top