Rayakan Idulfitri, Doa Perdamaian Berkumandang di Asia Tenggara

Doa dan harapan akan terciptanya perdamaian berkumandang di negara-negara Asia Tenggara saat umat Muslim di kawasan tersebut bersama merayakan Idulfitri 1438 H pada Minggu, (25/6/2017).
Yustinus Andri DP | 25 Juni 2017 20:56 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri), Wakil Presiden Jusuf Kalla (keempat kiri) dan Quraish Shihab (dua dari kiri) melaksanakan salat Idulfitri 1438 Hijriah, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (25/6). - Antara/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Doa dan harapan akan terciptanya perdamaian berkumandang di negara-negara Asia Tenggara saat umat Muslim di kawasan tersebut bersama merayakan Idulfitri 1438 H pada Minggu, (25/6/2017).

Di Indonesia, yang merupakan negara dengan jumlah umat Muslim terbesar di dunia, harapan akan perdamaian salah satunya berkumandang dalam salat Ied di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dalam ceramahnya, Mantan Menteri Agama Quraish Shihab, mengajak seluruh umat Muslim untuk menjunjung tinggi semboyan Bhineka Tunggal Ika dan semangat perdamaian.

Dalam kotbahnya yang berjudul 'Idulftri dan Semangat Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan', Quraish yang emnjadi khatib dalam upacara salat Ied itu, meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menggarisbawahi pentingnya sikap toleransi dan kesatuan sebagai sesama warga negara Indonesia.

“Kita dari awal sudah sepakat hidup dengan menjunjung semboyan Bhineka Tunggal Ika. Ajaran Islam juga telah menggarisbawahi untuk tidak melarang saudara kita yang berbeda. Sebaliknya yang dilarang adalah jika kita berselisih,” kata Quraish Minggu (25/6/2017).

Namun sayangnya, semangat dan himbauan tersebut tercoreng oleh aksi penyerangan terhadap angota polisi di Medan pada hari yang sama. Aksi penyerangan tersebut diduga dilakukan oleh para teroris yang mengincar polisi.

Di Filipina, pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak yang tergabung dalam kelompok ISIS di kota Marawi mereda pada Minggu (25/6/2017). Kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata sementara untuk menandai hari raya Idul Fitri.

Gencatan senjata tersebut memberikan kesempatan bagi umat Muslim di Filipina menghadiri salat Ied di sebuah masjid di Marawi, mulai pukul 6.00 waktu setempat. Seperti diketahui, pertempuran tersebut menyebabkan sekitar 224.000 orang harus diungsikan dari kota tersebut, dan menewaskan lebih dari 350 orang.

Namun, belum habis satu hari, aksi saling serang kedua kubu terdengar di Marawi pada siang hari pukul 14.00 waktu setempat.

"Ini adalah peristiwa yang paling menyakitkan dan menyedihkan, padahal Idul Fitri telah kita alami dan rayakan denga damai selama ratusan tahun terakhir," kata Zia Alonto Adiong, juru bicara komite krisis provinsi Marawi, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (25/6/2017).

Di Malaysia, doa meminta perdamaian dalam perang saudara di Yaman ada di benak dua pengungsi yang sholat di masjid utama di ibu kota Kuala Lumpur. Kedua pengungsi itu adalah Sumayah dan Nabila Ali.

Keduanya  mengatakan bahwa mereka mencari perlindungan di Malaysia setelah melarikan diri dari Yaman dimana lebih dari 10.000 orang telah tewas dalam dua tahun konflik.

"Ketika kita mengatakan terdapat orang miskin, anak-anak yang tidak aman dan selalu dalam bahaya di Yaman. Kita juga selalu mendaraskan doa dan harapan bahwa kelak di suatu hari akan muncul kembali perdamaian. Insya Allah," kata Sumayah.

Sumber : Reuters

Tag : Ramadan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top