Sepatu Tenun Unik, Bikin Tampil Cantik

Menjadi juara desain sepatu tingkat nasional diadakan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Mahasiswa gabungan dari tiga fakultas asal Universitas Mataram yakni Fakultas Kedokteran, FKIP, dan Fakultas Ekonomi mendesain sepatu yang mengangkat kearifan lokal daerah.
Eka Chandra Septarini | 20 Juni 2017 20:33 WIB
: Rosmalia, Annisa, Sulton, dan Firdaus saat mengenalkan sepatu tenun rancangan mereka - Selo Sepatu

Kabar24.com, MATARAM -- Industri kreatif saat ini tengah marak. Para pelakunya tentu saja banyak berasal dari kalangan anak muda.

Menjadi juara desain sepatu tingkat nasional diadakan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Mahasiswa gabungan dari tiga fakultas asal Universitas Mataram yakni Fakultas Kedokteran, FKIP, dan Fakultas Ekonomi mendesain sepatu yang mengangkat kearifan lokal daerah.

Rosmalia, Annisa, Sulton, dan Firdaus membentuk merek SELO. SELO mengkombinasikan sepatu sneakers yang sering digunakan anak muda dengan kain tenun ikat khas Nusa Tenggara Barat sebagai motifnya. Menurut mereka, sneakers merupakan salah satu tipe yang sedang naik daun dan banyak digunakan oleh pelajar dan mahasiswa.

Bermodalkan dana Rp9 juta yang dikumpulkan, SELO awalnya berniat menggandeng pengrajin sepatu yang ada di NTB. Sayangnya, kualitas dan harga yang diberikan oleh pengrajin lokal masih jauh dari rancangan mereka. Hal tersebut dikarenakan belum banyak pengrajin sepatu di asal NTB sehingga kemampuan dan keterampilan masih belum mumpuni.

“Sneakers itu anak muda banget, jadi kami coba kombinasikan tenun dan sneakers sehingga tenun tidak terkesan tua,” ujar Nisa, salah satu founder SELO.

Saat ini, SELO menggunakan tenun yang berasal dari Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Bima. Pemilihan tenun tersebut lantaran tiga daerah tersebut dianggap memiliki tenun dengan motif khas NTB serta kualitas kain yang baik. Kualitas kain, penting, mengingat tenun akan dipotong sesuai dengan jenis sepatu sehingga jangan sampai robek pada saat digunting.

Dalam sebulan, SELO mampu menjual sneakers tenun hingga 100 pasang dengan omset hingga Rp20 juta per bulan. Rata-rata satu pasang sneakers tenun dijual dengan harga Rp160 ribu hingga Rp270 ribu. Nisa menyebut, profit margin yang diperoleh SELO bisa mencapai hingga 50% per satu pasang sepatu.

Desain sneakers tenun SELO merupakan desain yang terbatas. Pasalnya, satu lembar kain tenun hanya dapat diproses menjadi satu kodi atau sebanyak 20 pasang sepatu. Kekhasan desain inilah yang menjadi nilai jual tersendiri bagi produk-produk SELO. Satu lembar kain tenun yang digunakan tidak kurang dari Rp500 ribu.

Salah satu strategi pemasaran yang dilakukan SELO adalah dengan melakukan pendekatan ke SKPD yang ada di NTB, salah satunya Dinas Pendidikan. SELO berharap restu dari Dinas Pendidikan NTB agar dapat menjadikan produk sneakers SELO sebagai sepatu yang dipakai oleh siswa-siswi sekolah yang ada di NTB.

“Ini kan produk lokal, alangkah baiknya kalua nanti bisa jadi sepatu wajib yang diberikan sekolah kepada murid-muridnya. Jadi seragam semua,” ungkap Nisa.

Selain ke Dinas Pendidikan, SELO juga tengah melakukan pendekatan ke Dinas Perindustrian. Pasalnya, Dinas Perindustrian menyanggupi untuk melatih pengrajin sepatu agar dapat bekerja sama dengan SELO sehingga tidak perlu lagi mencari pengrajin asal luar daerah.

Selain meraup Rupiah, SELO juga berharap bisa menjadi bagian untuk mengenalkan kearifan lokal kepada anak muda melalui produk yang trendi namun tetap etnik. Di setiap kotak sepatu SELO diselipkan selembar pamflet berisi informasi dan pengetahuan tentang motif tenun serta cara mencuci tenun.

Saat ini, konsumen yang membeli produk sneakers SELO baru dilayani melalui pembelian online di akun Instagram @selosepatuetnik dan beragam bazaar yang diikuti. Rata-rata yang membeli sneakers SELO justru orang luar daerah yang kebanyakan berasal dari Jawa.

Sneakers SELO juga sudah dipakai oleh Gubernur NTB TGH Zainul Majdi dan Walikota Mataram Ahyar Abduh. Produk lokal SELO dinilai pemerintah daerah merupakan inovasi anak muda yang harus didukung untuk terus dikembangkan.

Nisa berharap kedepannya, pemerintah daerah dan industri keuangan bisa mengucurkan dana modal untuk SELO sehingga bisa berproduksi lebih besar dan mampu melayani pesanan dalam jumlah yang lebih banyak.

“Semoga bisa meningkat setidaknya jadi 150 pasang per bulan. Mengingat belum ada sneakers yang dipadankan dengan tenun. Kalau flatshoes dan dari batik itu sudah banyak,” ujar Nisa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sepatu, produk kreatif

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top