Cuaca Tidak Menetu, Pemda Perlu Waspadai Potensi Naiknya Harga Beras

Pemerintah daerah diingatkan untuk mewaspadai potensi kenaikan harga beras, karena bakal memicu naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok lainnya, akibat cuaca yang tidak menentu jelang tutup tahun ini.
Heri Faisal | 02 Desember 2016 09:30 WIB
Beras - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, PADANG—Pemerintah daerah diingatkan untuk mewaspadai potensi kenaikan harga beras, karena bakal memicu naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok lainnya, akibat cuaca yang tidak menentu jelang tutup tahun ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat Dody Herlando menyebutkan laju inflasi daerah itu bulan lalu, tidak hanya disebabkan naiknya harga cabai merah, tetapi juga mulai meningkatnya harga beras.

“Selain cabai merah, ada beras yang juga naik. Ini [beras] perlu diwaspadai, karena kenaikan harga beras akan memicu naiknya harga komoditi yang lain,” katanya, Kamis (1/12/2016).

Menurutnya, sebagai komoditas pokok, kenaikan harga beras sedikit saja akan berdampak panjang terhadap upaya penanganan inflasi.

Data BPS Sumbar mencatatkan per November 2016, komoditi beras mengalami peningkatan harga sebesar 2,67% di Padang dan 5,92% di Bukittinggi.

Harga gabah kering panen (GKP) daerah itu di tingkat petani juga naik 2,71% (mtm) menjadi Rp5.539 per kilogram dan di tingkat penggilingan juga naik sebesar 2,23% (mtm) menjadi Rp5.616 per kilogram.

Dody menilai cuaca estrem yang terjadi belakangan di daerah itu, serta curah hujan yang tinggi hingga penghujung tahun diyakini akan berpotensi menyebabkan gagal panen, sehingga mengurangi pasokan.

Adapun, inflasi dua kota yang menjadi barometer pertumbuhan ekonomi Sumbar, yakni Padang dan Bukittinggi mengalami inflasi November masing-masing 1,13% dan 1,07%.

Secara year on year (yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya inflasi Padang mencapai 6,82% dan Bukittinggi 6,40%. Sementara berdasarkan tahun kalender inflasi Padang 4,95%, dan Bukittinggi 4,52%.

Sementara itu, penyumbang inflasi terbesar masih dari kelompok bahan makanan yakni 3,69% di Padang dan 3,73% untuk Kota Bukittinggi. Kelompok pengeluaran lainnya juga menyumbang inflasi namun kecil.

Pantauan Bisnis, sampai saat ini, harga beras di Pasar Raya Padang masih terbilang stabil dan belum mengalami kenaikan dari pekan sebelumnya. Harga beras kualitas premium IR42 Solok dijual Rp15.000 per kilogram, Cisokan Solok Rp14.500 per kilogram.

Selain itu, beras jenis Kurai Bukittinggi dijual Rp13,750 per kilogram, beras IR42 produk Padang dijual RP12,500 per kilogram, IR42 Muara Labuh dan Pariaman dijual Rp12.000 per kilogram, dan beras Arai Pinang dijual Rp10.000 per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumbar Candra mengakui di kuartal ketiga tahun ini terjadi gagal panen di sejumlah lokasi akibat kemarau panjang dan cuaca esktrem. Namun, kondisi itu diyakini tidak berpengaruh terhadap produksi beras Sumbar.

“Di kuartal ketiga memang ada gagal panen. Tetapi lebih ke luas tanam saja yang berkurang, target produksi kami masih yakin terpenuhi,” ujarnya.

Dia mengungkapkan target produksi padi daerah itu mencapai 2,6 juta ton, dengan produksi beras mencapai 1,7 juta ton.

Menurutnya, produksi beras Sumbar sudah jauh melebihi kebutuhan komsumsi masyarakat setempat yang hanya berkisar 850.000 ton hingga 950.000 ton per tahun.

Candra menuturkan untuk 2017, pemda setempat menargetkan produksi padi mencapai 3 juta ton. Strateginya adalah dengan meningkatkan luas tanam menjadi 530.000 hektare dan meningkatkan produktivitas lahan.

Tahun ini luas tanam hanya mencapai 496.000 hektare dari target di awal tahun yang mencapai 516.000 hektare, akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan gagal panen di sejumlah daerah.

 

Tag : sumbar
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top