Ekspor Naik, Raihan Devisa Bali Jadi US$40,51 Juta

Bali mengantongi devisa dari pengapalan berbagai jenis matadagangan ke pasaran ekspor sebesar US$40,51 juta selama September 2016, meningkat 1,18% dibanding bulan sama tahun sebelumnya US$40,03 juta.
Martin Sihombing | 02 November 2016 14:12 WIB
Bali - Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR -  Bali mengantongi devisa dari pengapalan berbagai jenis matadagangan ke pasaran ekspor sebesar US$40,51 juta  selama  September 2016, meningkat 1,18%  dibanding bulan sama tahun sebelumnya US$40,03 juta.

"Jika perolehan devisa itu dibandingkan dengan bulan sebelumnya menurun tipis 0,38%, karena pada  Agustus 2016 meraup US$40,66 juta," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho di Denpasar, Rabu (2/11/2016).

Ia mengatakan, lima komoditas utama andalan Bali yang menembus pasaran luar negeri itu terdiri atas produk ikan dan udang sebesar 19,69%, menyusul produk perhiasan (permata) 17,56% serta produk pakaian jadi bukan rajutan 10,63%.

Selain itu juga produk prabot, penerangan rumah tangga 10,63% serta produk kayu, barang dari kayu 9,01%.

Adi Nugroho menambahkan, pasaran Amerika Serika menyerap paling banyak matadagangan dari Bali yang mencapai 26,22%, menyusul Australia 11,43%, Singapura 7,08%, Jepang 8,70% dan Hongkong 4,36%.

Menurunnya nilai ekspor Bali dibandingkan bulan sebelumnya (Agustus 2016) dominan pengaruh dari berkurangnya nilai ekspor tujuan Jepang yang mencapai US$1,150 juta  atau merosot 29,77%.

Sementara itu, ekspor ke negara lain seperti Hongkong meningkat US$281.824, Malaysia US$275.429  dan Spanyol US$268.913.

Adi Nugroho menambahkan, dilihat dari jenis komoditas penurunan secara "month to month" dominan dipengaruhi oleh berkurangnya nilai ekspor pada ikan dan udang sebesar 2,04 juta dolar AS, kain perca 690.026 dolar, kayu dan barang dari kayu US$490.239.

"Sementara itu, barang-barang rajutan juga menurun US$357.969  dan peangkat optik US$123.157," ujar Adi Nugroho.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor bali, ekonomi bali

Sumber : ANTARA
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top