Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

SENGKETA LAUT CHINA SELATAN: Amerika Desak China Patuhi Putusan Arbitrasi

Amerika Serikat pada Selasa (12/7/2016) menyebutkan putusan pengadilan yang menyatakan bahwa China tidak memiliki predikat bersejarah atas perairan di Laut China Selatan bersifat final dan mengikat serta tidak seharusnya menjadi alasan untuk menaikkan ketegangan.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 13 Juli 2016  |  10:22 WIB
SENGKETA LAUT CHINA SELATAN: Amerika Desak China Patuhi Putusan Arbitrasi
Kepulauan Spratly di Laut China Selatan - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, WASHINGTON - Amerika Serikat pada Selasa (12/7/2016) menyebutkan putusan pengadilan yang menyatakan bahwa China tidak memiliki predikat bersejarah atas perairan di Laut China Selatan bersifat final dan mengikat serta tidak seharusnya menjadi alasan untuk menaikkan ketegangan.

“Kami pasti akan mendesak semua pihak untuk tidak memanfaatkan ini sebagai kesempatan untuk terlibat dalam tindakan provokatif atau menaikkan ketegangan,” kata Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest seperti dikutip dari Reuters, Rabu (13/7/2016).

Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag mengumumkan putusannya pada Selsa (12/7/2016) bahwa China tidak memiliki dasar hukum untuk mengklaim hak bersejarah atas sumber daya di hampir seluruh wilayah Laut China Selatan yang telah menjadi wilayah sengketa bagi beberapa negara.

China yang memboikot putusan tersebut kembali bersumpah untuk mengabaikan putusan itu dan mengatakan pasukan bersenjatanya akan mempertahankan kedaulatan dan kepentingan maritimnya.

Seorang pejabat pemerintahan senior Amerika mendorong berbagai pihak agar menggunakan putusan tersebut untuk mengadakan pembicaraan diplomatik guna menyelesaikan sengketa yang masih tersisa.

“Setelah masalah dan retorika mereda, keputusan ini membuka pintu untuk mengadakan beberapa diskusi praktis yang sangat berpotensi produktif bagi berbagai pihak yang melakukan klaim karena putusan tersebut secara signifikan mempersempit ruang lingkup geografis wilayah tersebut,” kata perjabat tersebut.

Pertemuan para menteri luar negeri Asean di Laos pada 21-26 Juli nanti akan menjadi kesempatan pertama bagi para pihak pengklaim untuk mendiskusikan putusan tersebut. Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga diprediksi akan hadir dalam pertemuan tersebut.

“Harapan saya akan ada waktu untuk penilaian, diskusi, dan konsultasi,” katanya.

Daniel Kritenbrink, penasihat kebijakan Asia terbaik Presiden Obama mengatakan bahwa negara tersebut tidak memiliki keperluan untuk memicu ketegangan di Laut China Selatan sebagai alasan untuk terlibat di wilayah tersebut.

“Namun, kami tidak akan menutup mata atas jalur perairan penting ini sebagai imbalan atas kerjasama dengan pihak-pihak lain di dunia,” katanya.

Sementara itu, Senator Amerika John McCain, Ketua Senat Komite Angkatan Bersenjata dan anggota Partai Republik Dan Sullivan dalam sebuah pernyataan mendorong pengklaim lain, termasuk Vietnam untuk menempuh solusi serupa atas sengketa maritim yakni melalui arbitrase dan negosiasi.

“China memiliki pilihan: memilih untuk dibimbing oleh undang-undang internasional, lembaga, dan norma-norma, atau memilih untuk menolak hal-hal tersebut dan melakukan intimidasi dan pemaksaan,” kata mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat sengketa laut china selatan Den Haag

Sumber : Reuters

Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top