Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cabai Merah Picu Inflasi di Padang dan Bukittinggi

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat mencatat inflasi dua kota, Padang dan Bukittinggi per November 2015 masing-masing 0,47% dan 0,53% yang didorong meningkatnya harga sejumlah komoditas, terutama cabai merah.
Heri Faisal
Heri Faisal - Bisnis.com 02 Desember 2015  |  10:15 WIB
Cabai merah - Ilustrasi/Bisnis
Cabai merah - Ilustrasi/Bisnis

Kabar24.com, PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat mencatat inflasi dua kota, Padang dan Bukittinggi per November 2015 masing-masing 0,47% dan 0,53% yang didorong meningkatnya harga sejumlah komoditas, terutama cabai merah.

Kepala BPS Sumbar Yomin Tofri menyebutkan komoditas cabai merah dan sejumlah komoditas pokok lainnya mengalami kenaikan tipis, sehingga mendorong inflasi bulan lalu.

"Ada kenaikan harga cabai merah di Padang dan Bukittinggi meski tidak besar, juga kenaikan beberapa komoditas pokok lainnya. Tetapi secara umum inflasi di Sumatra Barat cukup terkendali," katanya, Selasa (1/12/2015).

Dia menuturkan di Kota Padang terjadi kenaikan harga untuk komoditas cabai merah, ikan anak sala, beras, tukang bukan mandor, kontrak rumah, rokok kretek filter, batu bata, daging ayam ras, ikan teri kering, kentang, dan kangkung.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga a.l emas perhiasan, ikan tongkol/ambu-ambu, minyak goreng, bayam, telur ayam ras, ikan teri basah, ayam hidup, tuna, cumi-cumi, pembasmi nyamuk bakar, dan bawang merah.

Di Bukittinggi, sejumlah harga yang mengalami kenaikan adalah cabai merah, beras, jeruk, tomat sayur, nasi dengan lauk, daging ayam ras, shampoo, ikan dencis, kentang, buncis, dan komoditas lainnya.

Sedangkan emas perhiasan, bawang merah, telur ayam ras, dan minyak goreng mengalami penurunan.

Yomin mengatakan sejumlah kelompok pengeluaran di Padang dan Bukittinggi mengalami inflasi, kecuali kelompok sandang deflasi 0,07% di Padnag, dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan minus 0,01% di Padang dan deflasi 0,03% di Bukittinggi.

Adapun, inflasi tersebut menyebabkan laju inflasi kalender hingga November 2015 untuk Kota Padang masih tercatat -0,92% (deflasi), dan inflasi Bukittinggi 0,97%. Sedangkan year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Padang inflasi 1,72% dan Bukittinggi inflasi 2,83%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Puji Atmoko memperkirakan di akhir tahun ini, laju inflasi Sumbar hanya di kisaran 0,3% - 0,7%.

Apalagi, sepanjang tahun ini inflasi cenderung menurun setelah dua tahun sebelumnya inflasi menyentuh dua digit.Dia meyakini pasokan makanan bakal lebih terkendali, terutama komoditas cabai yang paling mempengaruhi laju inflasi Sumbar.

"Kami yakin pasokan lebih terkendali. Untuk cabai merah kan sudah mulai memasuki masa panen, ini [pasokan] akan berperan mengendalikan inflasi," katanya.

Selain itu, harga bahan bakar minyak (BBM) yang stabil cenderung turun, tarif dasar listrik, dan gas seiring dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi pemerintah diyakini bakal menciptakan stabilitas yang mendorong inflasi lebih terkendali. []


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi padang bukit tinggi cabai merah
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top